Jalan-Jalan ke GWK, Dreamland, dan Uluwatu

Setelah dari Pulau Penyu, rute berikutnya yang kami tuju adalah GWK (Garuda Wisnu Kencana). Sesampai di sama kami pun makan siang dulu di Restoran Beranda, trus sholat Dzuhur dijamak Ashar dulu di mushola yang ada di sana, kemudian baru deh jalan-jalan mengelilingi kompleks GWK tersebut.

Oh ya makan di Restoran Beranda ini sistemnya all you can eat ya seharga Rp 150.000,00/pax (kebetulan kami makan di sini sudah termasuk paket tur jadi kami nggak bayar lagi). Kalau nggak salah sih bukanya dari jam 11 siang sampe 8 malam. Rasa makanannya sih seperti rasa makanan di restoran pada umumnya, enak-enak aja kok menurut kami.

Dari GWK kami pun menuju ke Pura Uluwatu untuk menonton Tari Kecak di sana. Tapi sebelumnya mampir dulu di Pantai Dreamland karena kebetulan lokasinya juga searah. Berhubung saya bukan anak pantai, jadi ya saya biasa aja sih tiap ngelihat pantai. Lah di Bengkulu yang notabene punya pantai aja saya paling mager kalau diajak jalan ke pantai sana. 😂 Tapi ya minimal kalau ditanya orang udah bisa jawab lah kalo kami udah pernah ke Dreamland gitu, secara itu pantai namanya kan terkenal juga ya. 😆 Tapi kayaknya pantai ini favoritnya turis asing deh, soalnya saya lihat emang mayoritas yang berada di sini turis asing semua. Sampe-sampe rasanya kami lagi nggak berada di Indonesia saking sedikitnya orang lokal yang ada di sini. 😆

Di Pantai Dreamland.

Baru deh habis itu sampai di Pura Uluwatu. Saya waktu kecil kayaknya udah pernah deh ke sini, soalnya ingat ada kera-kera-nya yang “nakal” gitu kan, tapi tetep aja saya seneng juga karena sekarang udah kayak orang-orang yang punya foto sama pasangan dengan berlatar belakang tebing Uluwatu itu, hahaha.

Tapi jujur aja, saya rada kecewa pas nonton Tari Kecak-nya. Saya pikir ya kan saya bakal ngalamin pengalaman menakjubkan seperti yang sering saya lihat di foto-foto yang saya lihat di internet gitu kan. Nggak tahunya alamaaak tak tahu bilang lagi lah saya. Silahkan dilihat saja fotonya di bawah ini. 😔

Ekspektasinya sih seperti ini, menonton Tari Kecak sambil melihat sunset di latar belakang. Aaah indahnyaaa… (Sumber foto: kintamani(dot)id)

Tapi ternyata begini kenyataannya. 🤦‍♀️Udah nggak jelas lagi mana penari mana penonton saking penuhnya itu orang di bawah. Itupun sampe pertunjukan berlangsung masih nambah lagi loh orang yang masih dikasih masuk dan duduk di bawah situ, kebayang kan jadi sepadat apa itu di bawah kalau masih nambah lagi orang yang duduk di situ. 😔

Kalau menurut saya sih kalo udah waktunya pentas dimulai ya nggak usahlah diterima lagi penonton di luar untuk masuk ke dalam, soalnya kan mengganggu konsentrasi kita yang nonton juga kalau masih ada orang yang lalu-lalang di depan mata kita. Udah itu kalau emang kursi udah penuh ya nggak usah dipaksakan juga sih masih menerima penonton lagi. Ini sampai-sampai udah nggak kelihatan lagi bedanya mana yang penonton mana yang penari saking penuhnya itu orang-orang yang duduk di bawah. Lah penarinya aja sampai susah jalan gitu kok jadinya. 😅 Mana pas di tengah-tengah pertunjukan sempat heboh pula gara-gara ada penonton turis asing yang duduk di bawah itu teriak-teriak sambil loncat-loncat pas ada kodok yang ngelewatin dia. Sempat buyarrr itu konsentrasi penarinya. 🤣 Plus pake acara api yang menjalar ke penonton yang duduk di bawah itu pula. Untung aja si turis yang kena api itu nggak jadi korban kebakaran kan. 🤦‍♀️ Makanya coba kalau area bawah itu memang clear hanya untuk penari, selain supaya lebih jelas kita sebagai penonton menikmati pertunjukan kan untuk keamanan dan keselamatan selama acara berlangsung pula juga sih sebenernya.

Kebayang kan kalo apinya sebesar ini dan ada penonton yang duduk di bawah situ. 🙄 (Sumber foto: uluwatukecakdance(dot)com)

Untuk ukuran yang harus saya bayarkan menonton pertunjukan ini (100 ribu bok per orang, coba aja dikalikan sendiri dengan jumlah penonton yang sesesak itu bisa berapa tuh pemasukannya dalam sehari 😆), saya sih agak kecewa ya karena nggak sesuai ekspektasi saya. Dan setahu saya sih nggak cuma saya aja yang kecewa, dari hasil ngobrol dengan penonton yang duduk di sekitar saya juga mereka agak kecewa juga sih karena pengelola masih menerima penonton masuk ke dalam padahal jelas-jelas itu panggung juga udah penuh banget sama penonton. 😅 Bahkan turis asing yang ada di serong kiri saya kelihatan banget bete dan nggak nyamannya menikmati pertunjukan. Kecuali kalau tontonan ini gratis sih ya terserah ya mau menerima berapa banyak orang untuk masuk ke dalam, itu saya pasti maklum juga. Tapi ini kan kami bayar jadi bukannya kami juga punya hak untuk menikmati pertunjukan dengan nyaman? Tapi itu menurut saya sih. Intinya cukup inilah sekali seumur hidup saya nonton Tari Kecak di sana, yah setidaknya udah pernah punya pengalaman lah gimana rasanya. Kalau kelak pengen nonton lagi mungkin ntar saya pilih nonton yang di GWK aja yang katanya sih gratis dan rasanya juga nggak akan serame ini deh mungkin penontonnya, jadi kita sebagai penonton bisa menikmati tarian dengan konsentrasi penuh juga kan.

Habis dari Uluwatu tibalah kami ke penghujung trip, yaitu makan seafood di Jimbaran. Sebenernya makanannya enak sih, suasananya juga enak-enak aja, tapi satu aja yang kami sayangkan, gelapnya itu loooh. Makan gelap-gelapan kan agak susah ya sebenernya. Walaupun pake lilin tapi tetep aja nggak ngaruh, ujung-ujungnya ngidupin lampu senter yang ada di hp deh biar kelihatan walaupun masih agak repot juga rasanya. 😂 Eh bukan kami aja loh yang kayak gini, turis asing di meja sebelah kami juga pake senter hp kok. 😆

Seperti ini menu paket seafood di Jimbaran. Bentuknya emang nggak cantik sih tapi rasanya enak kok. Ada dikasih sayur kangkung juga tapi pedes banget, saya nggak sanggup makannya. 😄

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s