Jalan-Jalan ke Padang

Awal bulan Mei ini saya dan suami memutuskan untuk jalan-jalan ke Padang dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke-7. Plus kebetulan ada seminar kedokteran gigi juga di sana jadi kami sekalian daftar deh. Untuk jalan-jalan kali ini kebetulan kami nggak hanya pergi berdua aja karena kami sekalian mengajak tetangga di rumah kontrakan pertama kami dulu (yang akhirnya jadi akrab terus sampai sekarang walaupun kami sudah pindah dari sana). Awalnya kami emang cuma mau pergi berdua aja sih, terus saya teringat kalau keluarga Om ini pernah bilang pengen banget jalan ke Padang mengunjungi anak sulungnya yang sekarang sedang kuliah di sana (tapi belum sempat karena terkendala masalah biaya), jadi kami pikir ya udah sekalian ngajak aja lah toh mobil juga walau kecil tapi masih muat kok untuk diisi berlima. Dan sudah bisa ditebak sebelumnya, mereka pun emang senang banget saat kami ajak jalan ke Padang ini.

Untuk menuju Padang dari daerah kami ada dua jalur yang bisa dilewati, yang pertama lewat Utara via Muko-Muko, dan yang kedua lewat Jalan Lintas Tengah via Lubuklinggau. Sebenarnya kedua jalan tersebut sudah pernah kami lewati sebelumnya, tapi berhubung yang lewat Muko-Muko itu kami ngelewatinnya udah sekitar 7 tahun yang lalu dan saat itu pake travel juga, jadi kebanyakan waktu di jalan kami habiskan dengan tidur sehingga nggak begitu menikmati pemandangan deh. Makanya kami penasaran sih pengen lewat Muko-Muko lagi. Apalagi banyak yang bilang kalau sekarang jalannya udah besar dan bagus, jadi makin semangat lah kami untuk berangkat melalui jalur tersebut.

Ternyata eh ternyata, jalanannya nggak sebagus yang kami bayangkan! Iya sih emang kalau dilihat dari proporsinya yang jelek itu palingan cuma seperempat dari total perjalanan aja (alias mayoritas jalannya lumayan bagus lah, apalagi di Muko-Muko yang jalannya mulus kayak di video bawah), tapi sayangnya sekalinya jelek ya jeleknya itu nggak nanggung-nanggung, jelek banget!!! 😱😱😱 Terutama di daerah Lais menuju Ketahun (Bengkulu Utara) dan di suatu daerah saat menuju ke Painan (Pesisir Selatan, Sumbar). Saya pun heran kok bisa orang-orang yang kami tanyain ini bilang jalannya bagus, tapi setelah kami tilik-tilik kayaknya emang ada deh jalur alternatif yang jalannya lebih bagusan cuma kami aja yang nggak tahu di mana arah jalur alternatif itu berada. 😂 Akhirnya untuk pulangnya kami pun memutuskan untuk pulang melalui Jalan Lintas Tengah aja yang emang lebih pasti bagus jalannya. 😆

Selama di Padang kami menginap di The Sriwijaya Hotel (review menyusul ya kalau nggak malas nulisnya 🤣), sedangkan keluarga si Om menginap di tempat si anak sulung tinggal. Kami dan keluarga Om memang memutuskan untuk pisah jalan sesuai dengan agenda kegiatan masing-masing. Seminar yang kami ikuti sendiri berlangsung di Hotel Pangeran Beach, dan di antara berbagai topik yang disampaikan dalam seminar tersebut, ada dua materi yang sangat membuka perspektif saya. 😍 Btw saya kasih dua jempol untuk panitia seminar kemarin, padahal yang ngadain anak mahasiswa FKG Unand (bukan dokter gigi sebagaimana seminar biasanya diadakan), tapi baru kali ini saya ikut seminar yang saya berasa pesertanya kayak punya LO (liaison officer) sendiri. Dari mulai registrasi ulang ada yang dampingin di sebelah kita, nanya ruangannya di mana diantarin sampai ke ruangan, bahkan nanya WC ada di mana aja pake diantarin juga loh sampai ke depan pintu WC-nya. Salut deh sama adek-adek ini, mana kalau diajak ngobrol pada sopan-sopan gitu jawabnya. 😍👍👍👍

Salah satu pembicara yang mengisi seminar ini adalah drg. Rizal Rizky Akbar yang merupakan dokter gigi muda yang lagi hits banget di Instagram. Sumpah deh saya dengerin materi dia kayak lagi dengerin motivator, memotivasi banget isi materinya karena berasa realistisnya, apalagi setelah melihat perjalanan beliau jadi membuat kita yakin kalau kita juga bisa bertransformasi ke arah yang lebih baik. 👍

Selain mengikuti seminar, saya dan suami juga menyempatkan bersilaturahim dengan keluarga salah satu tetangga kami (di rumah kami yang sekarang) yang memang berdomisili di Padang. Sayangnya kami tidak sempat mengeksplorasi lebih jauh kota Padang ini karena waktu yang terbatas (secara teknis kami cuma dua hari aja di Padang), bahkan jalan-jalan ke pantai aja kami nggak sempat padahal itu termasuk salah satu wishlist saya. 🤦‍♀️ Tapi yang penting ada salah satu agenda wajib di kota Padang ini yang bisa kami laksanakan, malah ini termasuk kategori harus dilaksanakan sih sebenernya, yaitu berkunjung ke Masjid Raya Sumatera Barat. Sumpah saya asli kaguuuuum banget lihat arsitekturnya, sayang saya nggak bisa ngerasain sholat di dalamnya karena lagi halangan. 😢 Jadinya cuma suami aja deh yang bisa ngerasain sholat di dalam.

Masjid Raya Sumatera Barat

Kami pun juga tak lupa untuk menyempatkan membeli oleh-oleh dong. Di Padang emang banyak tempat yang bisa dipilih untuk membeli oleh-oleh, tapi setelah gugling saya pun memutuskan untuk membeli oleh-oleh di Keripik 4×7. Kenapa saya beli di sini, karena kabarnya harganya lebih murah dibandingkan dengan tempat lainnya. 😆 Apalagi lokasinya ternyata dekat banget sama hotel tempat kami menginap, walaupun posisinya emang masuk gang kecil gitu. Tapi nyarinya gampang kok, kalau bingung tinggal pake Google Maps aja juga bisa. Di sini saya beli keripik sanjay hanya Rp 18.000 saja yang ukuran kecil (kalau di tempat lain bisa sekitar Rp 20.000-an), dakak-dakak atau ganepo (Rp 15.000), karak kaliang (Rp 10.000 saja!), dan satu lagi stik keju yang kalo lebaran biasanya termasuk jadi salah satu kue lebaran gitu loh, harganya juga Rp 15.000 saja. Ada juga beberapa item lainnya di sana seperti dendeng jantung pisang (ini kalau nggak salah juga Rp 15.000), keripik sanjay cabe hijau (nggak nanya harganya berapa), dan pastinya banyak item lainnya. Pokoknya saya sih sangat merekomendasikan beli oleh-oleh keripik di sini. 👍 Ada testernya juga kalau mau coba nyicip-nyicip, dan bisa dibantu kirim pake ekspedisi juga sama mereka. Oh ya sebenernya saya juga pengen banget loh beli kue artis, sampe udah follow instagram-nya dan udah mikir bakal beli kue yang rasa mana aja, tapi apa daya karena udah kecapekan kami jadi malas deh gerak ke sana. Walaupun sekarang sampai rumah masih rada nyesal dikit sih kenapa lah kemaren nggak jadi beli si kue artis ini yaaa. 😆😆😆

Aneka keripik yang saya beli sebagai oleh-oleh.

Btw setelah kami hitung, ternyata jauh lebih cepat ngelewatin Jalan Lintas Tengah loh dibandingkan lewat Pesisir. Kalau lewat Pesisir kemarin kami berangkat jam 4 subuh dan sampai sekitar jam setengah 11 malam (sekitar 19 jam), sedangkan saat lewat Lintas Tengah kami berangkat jam setengah 3 dini hari dan sampai di rumah jam 6 sore (sekitar 15 jam). Jauh juga selisih waktunya kan? Akhirnya kami pun memutuskan kalau ke Padang lagi ya udahlah lewat Lintas Tengah aja! 😄

Advertisements

4 thoughts on “Jalan-Jalan ke Padang

  1. alrisblog says:

    Kalau wilayah Sumbar kondisi jalan bagaimana? Apa banyak yang rusak parah jugakah?
    Saya baru tahu Keripik 4×7 ini. Murah nih harga oleh-oleh di tempat itu. Terima kasih, bisa direkomendasikan nih.
    Biasanya saya beli keripik di Christine Hakim yang di Muara.

    • arinidm says:

      Kalau Sumbar yang jelek kayaknya cuma di Pesisir Selatan aja Da, selebihnya rasanya sih bagus-bagus aja kok. Iya Da kami juga biasanya tahu tempat oleh-oleh yang namanya udah terkenal aja, tapi pas gugling ternyata ketemu ini dan emang harganya lebih murah. 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s