Ketika Kematian Datang dengan Tiba-Tiba

Rasanya kayak baru kemarin saat seminggu yang lalu suami tiba-tiba masuk ke ruangan praktek saya dengan raut wajah tidak percaya sambil berkata, “Dek, Mbak V meninggal barusan.”

Kaget? Jelas. Tapi berhubung saat itu saya sedang mengerjakan tambalan pasien jadi saya berusaha untuk tetap fokus dan tenang. Apalagi saat itu kasus pasien yang sedang dikerjakan cukup rumit sehingga membutuhkan saya untuk tetap berkonsentrasi. Tapi suara orang-orang di sekitar lingkungan praktek yang heboh mendengar kabar tersebut tentu saja membuat saya cukup terdistraksi. Kenapa orang-orang bisa sebegitu hebohnya, karena sejam yang lalu beliau memang baru saja berada di rumah tetangga sebelah dan mengobrol dengan orang-orang sekitar. Siapa yang sangka kalau sejam kemudian beliau ternyata dipanggil kembali oleh Allah SWT secara tiba-tiba? Bukan karena sakit, bukan juga karena kecelakaan, tapi ya mungkin karena memang sudah waktunya saja.

Yah kita memang tidak pernah tahu kapan maut datang menjemput kita.

Kabar meninggalnya Mbak V yang tiba-tiba ini tentu saja dengan cepat tersebar di seluruh masyarakat yang ada di kabupaten kami. Apalagi beliau merupakan orang yang sangat terkenal di daerah kami. Banyak yang tidak menyangka bahwa beliau akan berpulang di usia yang masih bisa dibilang muda, apalagi karir yang beliau miliki saat ini sedang berada di atas puncak. Di umur yang masih 41 tahun ini beliau memang sedang jaya-jayanya. Selain merupakan dokter senior yang tempat prakteknya selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat di daerah kami, di mana tempat prakteknya itu kini sudah berkembang hingga memiliki apotek, klinik kecantikan, dan tempat senam sendiri, beliau pun juga sedang menjabat sebagai Direktur RSUD tempat suami bekerja saat ini.

Tapi begitulah kematian, bisa datang kapan saja. Tidak peduli apakah kita masih muda, tidak peduli apakah kita sedang dalam masa emas.

Jujur saja sepulang dari takziah saya pun jadi kepikiran berat, sampai-sampai sakit kepala saya ini dibuatnya. Kepikiran tentang nasib saya ke depannya. Apakah saya sudah siap menghadapi ketika batas waktu saya hidup di dunia ini selesai? Apakah amal ibadah saya kelak cukup untuk membawa saya lolos dari azab kubur maupun azab neraka?

Tapi saya juga bingung dengan diri saya sendiri, udah tau saya takut menyesal karena kurang beribadah, tapi masih juga amal ibadah yang dilakukan tetap segini-segini aja. Astagfirullahaladzim.. Ya Allah semoga belum terlambat untuk kami meningkatkan ibadah kami ini untuk bekal di akhirat kelak. 😭

Semoga kita termasuk hamba Allah yang selalu berada di jalan yang lurus, bertakwa kepada-Nya, dan meninggal dalam keadaan husnul khotimah, aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s