Menolak Tawaran Berikutnya

Seperti yang sudah saya ceritakan sekilas sebelumnya, alasan utama saya untuk tidak lanjut bekerja di sebuah instansi (walaupun hanya sebagai pegawai tidak tetap saja) adalah karena permintaan suami yang tidak ingin saya terikat kontrak lagi. Tapi kalau boleh jujur, sebenernya untuk akhirnya bisa memenuhi permintaan yang satu ini saya sampai harus berperang pemikiran dulu dengan diri-sendiri dan juga tak lupa beradu argumen pula dengan suami loh. πŸ˜… Soalnya saya pun sejujurnya masih rada galau untuk berhenti dinas karena saya emang udah terlanjur betah dinas di Puskesmas yang terakhir ini, dan ketika memikirkan kalau suatu saat nanti akan ada yang menggantikan posisi saya di sana (walaupun ntah kapan-kapan juga sih bakal ada penggantinya karena emang jarang juga ada dokter gigi yang minat tugas di daerah saya ini) kok rasanya agak nggak rela hati ini yaaa, hahaha. πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

Tapiii, setelah mendengar beberapa ceramah ustadz yang berhubungan dengan situasi yang saya alami, yah dalam Islam seharusnya kan kita sebagai istri emang harus tunduk dan taat pada suami ya. Jadi akhirnya yasudlah kalau mau diridhai Allah ya saya harus dong memenuhi permintaan suami. Dan emang bener sih, setelah saya yakin untuk tidak melanjutkan dinas di instansi lagi, ternyata Allah kemudian juga menampakkan beberapa alasan penunjang yang mendukung keputusan saya ini. Alhamdulillah, la quwwata illa billah..

Namun di saat saya pikir saya sudah terbebas dari kegalauan memutuskan di antara dua pilihan, Allah kembali menguji kemantapan saya. Saya pun kemudian mendapat tawaran pekerjaan baru, kontrak di klinik polres di daerah saya. Tawarannya pun cukup menggiurkan, hanya perlu datang sekali seminggu saja dengan gaji yang yah lumayan lah walau nggak sebesar dari Kemenkes dulu juga (teteuuup ngebandinginnya dengan yang Kemenkes punya ya πŸ˜†). Nah saya pun sempet tergoda lah ya kan, dan saya utarakanlah dengan suami soal tawaran ini.

Ndilalah gara-gara cuma mengutarakan aja efeknya kami malah sampai jadi perang besar jadinya. πŸ˜‚

Di sini saya baru menyadari bahwa suami emang bener-bener nggak mau lagi saya terikat kerja dengan pihak manapun,dan kalaupun mau kerja ya cukup di tempat praktek pribadi saja yang memang lebih fleksibel karena kan tempat usaha sendiri juga. Saking nggak pengennya saya terikat, saat lagi marahan itu suami sampe bilang, “Emang berapa sih gajinya sampai Adek tertarik bener pengen kerja di sana??? Biar Abang yang ngasih Adek uang segitu tiap bulannya!”

Hohoho, okelah daripada rumah tangga jadi nggak harmonis hanya gara-gara masalah sepele begini, yang paling bener dan paling baik emang saya harus nurutin permintaan suami lah. Selain itu, kami alhamdulillah saat ini tidak lagi dalam posisi kekurangan, sehingga emang nggak ada kewajiban juga saya untuk mencari nafkah. Lagian hikmahnya walaupun sehari-hari saya lebih banyak waktu di rumah toh akhirnya malah jadi nambah tuh uang saku bulanan saya kan, hahahaha. 😁😁😁

Advertisements

2 thoughts on “Menolak Tawaran Berikutnya

  1. alrisblog says:

    Mengikuti perintah suami asal untuk kebaikan itu bagus, dan pasti diridhoi-NYA.
    Usaha sendiri itu lebih keren. Saya juga pengen usaha sendiri. Mulai bosan diperintah terus. Mohon doanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s