Tata Cara Vaksinasi Meningitis

Melalukan vaksin meningitis adalah salah satu hal yang tidak boleh terlewatkan bagi yang merencanakan perjalanan umroh. Berhubung masih segar dalam ingatan, jadi saya pikir saya tuliskan aja lah tata caranya di blog ini, jadi kalau suatu saat di masa datang kami perlu vaksin lagi tinggal dilihat lagi aja di blog ini, hehe. 

– Pertama kali yang perlu dilakukan adalah daftar online dulu di kespel.depkes.go.id lalu klik bagian Pelayanan. Tinggal diisi aja data yang perlu diisi dan pilih kantor tempat melakukan pelayanan beserta hari rencana kita mau datang ke kantor tersebut. Jangan lupa unggah hasil scan paspor juga ya saat mendaftar. Nanti formulir pendaftaran akan dikirim melalui e-mail dan print formulir tersebut. Oh ya untuk orang yang berbeda bisa pake satu e-mail yang sama kok.

– Untuk wilayah Bengkulu, vaksin meningitis dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) yang lokasinya dekat Bandara Fatmawati. Kalau dari arah kota setelah melewati bandara kita masih lurus aja tapi jangan terlalu ngebut ya, soalnya kira-kira sekitar 100 meter ke depan nanti kantornya ada di sebelah kanan.

– Jadwal pelayanan hanya hari Senin-Jumat dari jam 08.00-13.00 WIB (mungkin kalau hari Jumat bisa tutup lebih cepat). Saya sangat menyarankan datanglah agak pagian mumpung masih sepi. Kami datang jam 8 lewat dan dapat antrian nomor 2 dan 3. Awalnya kami pikir mungkin emang di Bengkulu aja kali ya yang sepi, eeeh pas mendekati jam 9 ternyata langsung rame seketika. Untung kami datang agak pagian. πŸ˜…

– Prosedurnya ke bagian pendaftaran dulu, serahkan formulir pendaftaran yang sudah di-print beserta fotokopi KTP dan juga fotokopi paspor. Kalau mau umroh jangan lupa paspornya udah terdiri dari 3 suku kata ya. Oh ya nanti ada satu formulir lagi yang perlu diisi di tempat, semacam informed consent gitu atau persetujuan/izin untuk tindakan vaksin ini.

– Masuk ke ruangan dokter, lalu akan dilakukan pengecekan tekanan darah dan anamnese riwayat alergi dan penyakit.

– Khusus wanita usia produktif harus melakukan tes kehamilan. Jadi saat suami masih di ruang dokter saya pun ke ruangan laboratorium untuk ambil botol urin, lalu ke WC untuk pipis, baru balik lagi ngantar botolnya ke lab. Untung saat itu saya emang pengen pipis jadi ya udah langsung ke WC aja deh nggak pake nunggu-nunggu atau minum dulu, hehe. Hasil tesnya sendiri juga cepet kok keluarnya. Nah hasil tes lab ini saya bawa lagi ke ruangan dokter. Saya sempet ngintip hasil test pack-nya yang negatif itu (soalnya disertakan juga stripnya di lembar hasil lab itu). Saking udah biasanya ngelihat hasil strip satu garis jadi udah biasa aja sekarang rasanya tiap tahu hasilnya negatif, hehe.

– Lalu ke ruangan pembayaran. Bayarnya bisa debet pake kartu BRI dan BNI, dan saya sangat menyarankan pake kartu debit aja ya biar nggak buang waktu. Soalnya kalau nggak punya kartu BRI atau BNI harus bayar ke kantor pos dulu, dan lokasi kantor pos terdekat juga saya nggak tahu tuh di mana. Biaya vaksin meningitis Rp 305.000,-/orang, dan untuk wanita yang melakukan tes kehamilan ada dikenakan tambahan biaya sebesar Rp 25.000,-. Jadi kami berdua kemaren totalnya kena Rp 635.000,-.

– Lalu antar lagi bukti pembayaran ke ruang dokter dan tinggal tunggu dipanggil untuk vaksin. Vaksinnya sendiri dilakukan di lengan kiri atas pake spuit 1 cc. Lumayan terasa tapi nggak sakit-sakit amat kok. Oh ya sebelum vaksin jangan lupa sarapan ya, tapi kalo nggak sempet sarapan di rumah ada yang bawa keranjang jualan makanan juga sih di sana.

– Setelah itu tinggal tunggu dipanggil lagi untuk mendapatkan buku kuningnya (buku bukti vaksin). Kalau udah dapat buku kuningnya udah deh selesai. Kami sendiri cuma ngabisin waktu bentar aja di sana karena dapat nomor antrian awal. Yang lama itu saya rasa ya cuma antrinya aja kok karena rame.

– Vaksinnya berlaku dua tahun. Kalau dalam dua tahun mau pergi umroh lagi ya nggak perlu vaksin lagi, cuma kasih aja buku kuningnya ke travel umrohnya. Gitu sih penjelasan dari petugas KKP kemaren.

– Kalau mau kirim paspor atau buku kuning ke travel umroh yang berlokasi di luar kota via ekspedisi, jangan lupa difotokopi dulu dan diserahkan fotokopiannya ke petugas ekspedisi. Kemaren pas ngirim via TIKI saya nggak tahu kalau ngirim dokumen penting (seperti paspor) harus menyertakan fotokopinya sebagai arsip mereka. Ini saya catat di sini biar suatu saat perlu nanti saya nggak lupa. πŸ˜†

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s