Kembali ke Bengkulu

Cerita terakhir dari perjalanan ini, ini, ini, ini, dan ini. Moga-moga pada nggak bosen bacanya yaaa. 😆

Rencananya sih kami mau mulai gerak jam 3 pagi, tapi walopun saya sudah bangun jam 2-an tapi ya seperti biasa tetep aja berangkatnya rada molor jadi jam setengah 4. 😅 Sayangnya kami sempet salah ambil rute jadi sempet beberapa kali tersesat (kami ngandalin Google Maps soalnya) dan ngebuat suami bete karena jadinya waktu kami habis hanya untuk jalan di arah yang salah. *maaf ya suami navigatornya salah pilih rute 😅* Tapi kami mengambil pelajaran untuk ke depannya kalo lain kali sebelum mobil jalan harus dipastikan dulu bener-bener rutenya mau lewat yang mana, baru deh boleh gerak. 😁

Oh ya kali ini saya jelaskan kota mana aja yang kami lewatin saat perjalanan pulang dari Bukittinggi menuju Bengkulu, sekalian supaya bisa jadi arsip saya juga kalo mau pergi lagi suatu saat nanti. Berikut rute yang kami tempuh:

Bukittinggi – Padang Panjang – Danau Singkarak – Solok – Silungkang (Sawah Lunto) – Sijunjung – Pulau Punjung (Dharmasraya) – Sungaidareh (Dharmasraya) – Koto Baru (Dharmasraya) – Sungai Rumbai (Dharmasraya) – Perbatasan Sumbar-Jambi – Muara Bungo (Jambi) – Bangko (Merangin) – Pamenang (Merangin) – Sarolangun (Sarolangun) – Singkut (Sarolangun) – Perbatasan Jambi-Sumsel – Muara Rupit (Muratara/Musi Rawas Utara) – Terawas (Musi Rawas) – Lubuk Linggau – Perbatasan Sumsel-Bengkulu – Padang Ulak Tanding (Rejang Lebong, Bengkulu) – Kepalacurup (Rejang Lebong) – Sindang Kelingi (Rejang Lebong) – Curup (Rejang Lebong) – trus tambah 2 jam lagi sampai deh di daerah tempat tinggal saya.

Total waktu perjalanan yang kami tempuh lagi-lagi hampir 17 jam, berangkat jam setengah 4 pagi dan sampai di rumah sekitar jam 8 malam. Mungkin bisa lebih cepat kalo nggak banyak berhenti, karena kami berkali-kali berhenti pas suami kecapekan atau ngantuk jadi kita parkir di pom bensin dan suami pun tidur dulu bentar. Kami juga sempat berhenti hampir sejaman dua kali untuk makan, satu di Muara Bungo dan satu di Curup. Oh ya yang di Muara Bungo ini kami emang khususkan untuk berhenti, karena kami mau ketemu sama salah satu sahabat suami (yang juga senior saya waktu kuliah dulu) yang pas pula lagi bertugas di sana. Berhubung pas perjalanan berangkat kami belum sempet ketemuan, jadi kali ini kami sempetin untuk makan bareng deh. Dia sampe minta izin sama Kepala Puskesmasnya untuk bertemu kami loh karena ya kami nyampe di sana juga masih jam kerja sih, hehe.

image

Suami saya (kiri) dan sahabatnya sejak jaman kuliah yang akhirnya bertemu lagi setelah 6 tahun berpisah. Jazakallahu khairan katsiran atas traktirannya ya Bang. 😀

Btw perjalanan kali ini membawa banyak hikmah untuk saya dan suami. Kami berdua merasa perjalanan ini semakin memperkokoh hubungan kami dan membuat kami lebih bersyukur dengan hidup yang kami jalani. Walaupun nggak bisa dipungkiri selama di jalan saya dan suami ada berantem-berantemnya juga sih tiap ada salah paham, tapi kami saling maklum aja lah karena namanya juga sama-sama kecapekan di jalan. 😁 Tapi emang berasa banget capek dan gempornya loh, saya yang cuma duduk aja pas udah nyampe rumah langsung teparrr setepar-teparnya dan baru mood ngeberesin rumah beberapa hari berikutnya. Gimana lagi capeknya suami yang nyetir sendiri tanpa gantian kan, nggak heran suami minta izin (ke saya sebagai manajer praktek :mrgreen: ) untuk nggak praktek dulu selama seminggu.

image

Ini nih partner kami dalam perjalanan kali ini. Walo cc-nya kecil tapi ternyata alhamdulillah sanggup juga mengantarkan kami menjelajah Sumatera bagian tengah. 😀

Advertisements

4 thoughts on “Kembali ke Bengkulu

  1. Alris says:

    Ternyata mengandalkan google maps juga gak selalu benar. Sebenarnya gampang saja, kalo tersesat, ya, nanya. Kalo gak nanti jadinya jalan-jalan 🙂
    Soal perjalanan membawa hikmah, sebenarnya begitulah hidup bersuami-istri. Asal segala sesuatu disikapi dengan cara dialog, tidak egois satu atas yang lainnya, saling menghormati dan berani meminta maaf kalo salah. Percayalah kalo resep itu dilaksanakan rumah tangga langgeng sentosa, aman damai, adem deh. #kokmalahberinasehat

    Panjang rute perjalanannya ya. Padahal mungkin lewat Padang Panjang-Lubuk Alung-kota Padang-Pesisir Selatan-MukoMuko-Bengkulu Utara, perjalanannya lebih pendek. Tapi saya gak tau juga apakah jalannya bagus semua apa gak. Kalo masih daerah Sumbar jalan masih bagus menurut saya.

    • arinidm says:

      Saya juga pengennya nanya aja, tapi suami nggak tau kenapa nggak suka nanya sama orang nggak dikenal Mas, padahal kan tinggal dipilih-pilih aja mana orang yang kira-kira emang orang baik-baik, misalnya nanya sama orang pom bensin gitu kan, hehe. Kalo lewat Bengkulu Utara emang lebih pendek rutenya Mas, tapi takut jalannya jelek, soalnya dari daerah saya menuju ke utara jalannya rusak parah nggak bisa dilewatin mobil kecil (ke arah tempat saya kerja itu loh Mas). Makanya biar lebih aman dan pasti lewat yang rada jauh tapi jalannya udah terjamin bagus aja. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s