Ketika Akhirnya Harus Memilih..

Saya sebenernya pengeeeeen banget sekolah lagi. Saya merasa sekolah merupakan salah satu wadah untuk saya mengembangkan diri. Saya ingin mendapat pandangan baru dari orang-orang baru yang akan menjadi teman bergaul sehari-hari saya kelak, dan dari tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya ingin bener-bener serius mempelajari suatu ilmu yang bisa saya dapatkan dari orang yang ahli di bidang itu, yang memiliki passion yang kuat di bidang yang mereka tekuni, dan sekaligus bisa memiliki kesempatan untuk dapat mengenal lebih dekat dan berinteraksi dengan orang-orang hebat tersebut.

Tapi saya sadar diri, saya sudah berkeluarga. Dan saya memiliki suami yang sangaaaaat bergantung kepada saya. Berpisah sehari aja suami saya bisa galau berat dibuatnya. Bisa dibilang bagi suami cuma saya satu-satunya sahabat dia yang sebenarnya.

Oleh karena itu saya tidak mau egois. Saya cuma ingin pergi sekolah kalau kami bisa berangkat bersama-sama. Akhirnya saya dan suami bersepakat, kalau saya dapat kesempatan sekolah, dia akan ikut menemani saya.

Namun kami sadar, bagaimanapun suami adalah sumber pemberi nafkah bagi keluarga. Kalau dia ikut saya, segala yang sudah susah payah diusahakannya di sini akan jadi sulit terkontrol selama dia pergi, walaupun hanya pergi untuk sementara saja. Kalau sudah sulit dikontrol dampaknya bisa gagal di tengah jalan semua yang sudah susah payah ia rintis selama ini.

Akhirnya suami memutuskan untuk membolehkan saya pergi sendiri jika kelak saya berhasil meraih impian saya. Tapi walaupun ia membolehkan secara lisan, dari lubuk hatinya yang terdalam saya tahu dia pastinya ingin saya untuk nggak jauh-jauh dari dia.

Saya bingung berat. Saya punya impian, tapi bagaimana cara agar saya bisa mewujudkannya tanpa harus berpisah dari suami saya???

Kalau sudah begini akhirnya solusi paling sederhana cuma satu, saya harus kembali ke ajaran agama.

Saya merenung, saya ini mau dapat dunia aja, atau mau dapat akhirat juga? Kalau cuma mau dunia ya saya silahkan aja pergi ke mana yang saya mau tanpa perlu mikirin suami saya. Tapi jelas di akhiratnya kelak saya belum tentu selamat. Sementara kalau saya ngejar akhirat, walaupun saya nggak dapat apa yang saya harapkan di dunia, tapi pasti balasan dari Allah di akhirat kelak akan luar biasa indahnya.

Saya juga merenung, rata-rata di balik pria hebat pasti ada wanita yang selalu mendampingi dan setia mendukungnya. Apa saya mau, di saat suami saya berhasil meraih impiannya saya malah tidak ada di sampingnya? Apa saya mau bukan menjadi wanita yang turut andil dalam mengiringi keberhasilannya?

Dan ketika akhirnya harus memilih, saya pun memutuskan, lebih baik saya lepaskan segala impian saya dan berkomitmen untuk mendampingi suami saya di manapun ia berada. Saya hanya ingin suami saya ridha pada saya. Karena ridha Allah ada pada ridha suami.

Tidak bisa dipungkiri ketika hari pertama saya membulatkan tekad untuk mengambil keputusan ini hati saya rasanya perih dan sediiih sekali memikirkan impian saya. Tapi saya yakin, kalau saya bisa berhasil menjadi istri sholehah, segala hal yang sudah saya lepaskan ini pasti tidak akan bisa mengimbangi ganjaran pahala yang sudah Allah janjikan pada hamba-Nya yang mau mengikuti peraturan-Nya. Surga itu pasti jauuuuuuuuuuh lebih indah.

Bismillahirrahmanirrahim. Ya Allah luruskanlah niat dan langkahku, jadikan aku istri sholehah untuk mendapat keridhaan-Mu. Aamiin..

image

Partnerku, sahabatku

Advertisements

4 thoughts on “Ketika Akhirnya Harus Memilih..

  1. alrisblog says:

    Kalo sudah jadi suami istri artinya pasangan. Memang yang enak itu seiya sekata dengan pasangan dalam memutuskan sesuatu. Nikmat itu susah senang dijalani bersama. Cita-cita melanjutkan sekolah itu pasti ada jalan yang diberikan Allah swt, Insya Allah.
    Saya suka dengan doa di paragraf bawah itu.

  2. aisyah says:

    dik arini,
    wah saya jd berkaca2 membaca tulisanmu. sama persis, saya juga memutuskan hal yg sama dng adik. saya bertekad tdk akan meninggalkan suami unt bersekolah ke luar daerah atau luar negeri krn dia jg cukup bergantung & membutuhkan saya. bisnisnya pun tdk bisa ditinggalkan. kasihan karyawannya. apalagi anak saya ada 3 & 2 orang masih di SD & SMP.
    saya beruntung tinggal di tangerang shg bisa meneruskan ke S2. untuk adik, jika ingin sekolah lagi ada lho S2 yg program jarak jauh yaitu di UGM. pilihannya ada bnyk bisa yg ilmu kesmas atau manajemen rumkit. memang ada waktu2 ketika mhsw hrs menetap di yogya tp ngga lama. sekitar 2 minggu – 1 bln, kalo ngga salah. selebihnya tugas2 dikirim ke & dari daerah asal mhsw. coba saja hubungi pihak FK UGM. googling & infonya ada bnyk di internet kok. saya bbrp kali ikut pelatihan jarak jauhnya juga khusus unt kebijakan kesehatan.
    moga bermanfaat & salam..

    • arinidm says:

      Salam kenal Mbak Aisyah, terima kasih sudah berbagi cerita di sini Mbak. Wah terima kasih banyak juga untuk info dan sarannya Mbak, bisa untuk jadi pertimbangan kami juga ke depannya. Btw gimanapun jalan hidup yang harus kita hadapi, yang terpenting semoga kita semua bisa jadi wanita sholehah yang diridhai oleh Allah SWT ya Mbak, semoga pengorbanan kita berbuah manis di syurga kelak, aamiin.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s