Doa

Dulu saya itu punya obsesi yang terpendam saat saya masih kecil: Saya pengeeeeen banget bisa ngerasain yang namanya tinggal atau sekolah di Amerika! Waktu kecil dulu saya emang terobsesi banget dengan negara yang satu ini karena saya nggak begitu fasih berbahasa Inggris. ๐Ÿ˜‚ Dan Papa saya sering bilang untuk bisa fasih berbahasa asing kita itu harus terjun langsung ke negara tempat bahasa tersebut digunakan.

Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, saya ini kan besar di lingkungan perusahaan tempat Papa saya bekerja. Nah setiap tahun biasanya ada pegawai yang ditugaskan ke lokasi induk perusahaan tersebut yang berada di Amerika. Waaah kalau ada teman saya yang mendapat kesempatan mengikuti orang tuanya dan bisa bersekolah di sana saya suka siriiiiik banget! Apalagi kalo pas setahun atau dua tahun kemudian mereka pulang kembali dan melihat mereka semakin cas-cis-cus aja bahasa Inggris-nya, huhuhu saya jadi mikir kenapaaalah Papa saya ditugaskannya kok ya pas sayanya dulu belum lahir gitu siiih. ๐Ÿ˜ฅ

Mama saya kebetulan bekerja di sekolah internasional milik perusahaan yang sama, yang merupakan tempat anak-anak ekspatriatnya bersekolah. Berhubung saya sering berkunjung ke sana, jadi bisa dibayangkan lah ya betapa makin terobsesinya saya dengan Amerika, terutama dengan kehidupan high school-nya. ๐Ÿ˜… Apalagi kalau ngebaca majalah yang ada di library sekolah tersebut (yang kalau nggak diperlukan lagi kadang bisa Mama saya bawa pulang ke rumah ๐Ÿ˜†), seperti Teen atau Seventeen, huaaa rasanya saya pengen segera berada di sana! ๐Ÿ˜†

Saking terobsesinya, saya sampe pantengin serial TV yang berbau high school gitu (favorit saya adalah Popular yang tayang di Indosiar, ada yang tahu???). Bahkan film 10 Things I Hate About You dan Bring It On juga ampe saya tonton berrrrrpuluh-puluh kali loh! ๐Ÿ˜

Inget nggak kalau di majalah remaja dulu sering ada iklan kursus bahasa Inggris sambil sekalian liburan ke luar negeri yang diselenggarakan oleh lembaga E* itu? Waaah saya ampe berkhayal-khayal ngebayangin bisa ngerasain summer course-nya, sampe sering ngitung-ngitungin berapalah biayanya kalo dikonversi ke rupiah. Tapi semua hanya sebatas angan karena saya sadar juga orang tua saya nggak mungkinlah mau ngebiayain saya ikutan begituan, muahalll boook, ribuan dollar! ๐Ÿ˜ฃ

Prinsip Papa saya mungkin agak berbeda dengan orang tua yang lain. Walaupun (mungkin sebenarnya) beliau mampu membiayai, tapi beliau berprinsip kalau anak-anaknya mau sekolah ke luar negeri ya harus bisa nyari beasiswa atau biaya sendiri, karena beliau aja bisa pergi ke luar dengan usahanya sendiri tanpa bantuan orang tuanya. Walaupun saya sejujurnya sangat nggak setuju dengan prinsip tersebut tapi jadi yasudlahyaaa…

Tahun 2000 saya mendapat kesempatan untuk umroh bersama keluarga saya. Dari awal saya pokoknya udah tahu apa yang mau saya doain: Saya pengen banget bisa tinggal dan sekolah di tempat yang menggunakan bahasa Inggris biar saya bisa cas-cis-cus berbahasa Inggris juga. Pokoknya nggak ada doa lain deh. Maklum namanya juga saat itu masih a-be-ge ya jadi belum bisa berpikir terlalu jauh deh saat itu, hehehe. Coba kalau sekarang saya ke Tanah Suci pasti bakal lebih dibanyakin doa untuk akhirat daripada untuk dunianya.

Naaah rupanya sebelum saya melihat Ka’bah, Mama saya tidak sengaja bertemu wanita asal Dubai yang pernah tinggal cukup lama di Malaysia. Mereka berdua pun terlibat percakapan dan dari situlah saya baru mengetahui bahwa ternyata ada juga negara Islam di tanah Arab yang ternyata mayoritas penduduknya fasih menggunakan bahasa Inggris (saat itu saya belum tahu ya kalo ternyata mayoritas negara di Timur Tengah itu penduduknya emang pada fasih berbahasa Inggris sebenernya, hehehe). Saya pun jadinya menemukan obsesi baru.

Lima belas tahun yang lalu, tepat di depan Ka’bah, saya cuma ingat satu kalimat saja yang saya panjatkan dalam doa saya kala itu: Ya Allah, aku pengen tinggal di Dubai!!!!!

Dan doa itupun terlupakan bertahun-tahun kemudian. ๐Ÿ˜…

***

Long story short, saya pun sibuk dengan aktivitas saya sendiri. Sampai suatu hari di tahun 2005, keluarga Bibi (tante) yang paling dekat dengan saya pindah ke Doha, Qatar. Huaaa saya jadi teringat obsesi masa kecil saya dan juga turut siriiik berat dengan sepupu-sepupu saya yang bisa ngerasain belajar di sekolah internasional di sana. ๐Ÿ˜‚ Saya pun sempat sebulan mengunjungi mereka ke sana bersama orang tua saya dan oalaaah, saya nggak nyangka kalo ternyata negaranya modern juga, apalagi ditambah saat itu sedang galak-galaknya dilakukan pembangunan di sana-sini.

Ternyata tanpa disangka-sangka, tahun berikutnya Papa saya diberikan rezeki oleh Allah SWT dengan mendapat kerja di Kuwait! Sebenarnya ini suatu pertanda ya, tapi tahu apa yang saya pikirkan saat itu? Saya cuma berpikir, kenapaaalah Papa dapat kerjanya ke sana pas aku udah kuliah gini sih??? Kalo masih SMA kan akhirnya aku bisa ngerasain juga yang namanya sekolah di luar negeri! *tepok jidat* *anak yang tak tahu bersyukur banget deh saya ini saat itu* Berhubung saya masih fokus sibuk kuliah untuk mengejar gelar dokter gigi, saya saat itu jadi malah belum pernah sekalipun mengunjungi orang tua saya di sana. Setiap disuruh berkunjung saya selalu menolak karena sok sibuk koas. Ah palingan bentuk kotanya sama kayak di Qatar dulu, begitu pikir saya saat itu. Hingga akhirnya saya pun lulus kuliah dan memutuskan untuk segera menikah setelah menyandang gelar dokter gigi.

Setelah empat tahun orang tua saya bermukim di Kuwait, saat setelah diwisuda dan sedang menunggu hari-H pernikahan itulah akhirnya saya berkunjung ke Kuwait bersama Kakak dan ponakan saya selama hampir dua bulan. Dan saya sangaaaaat menyesal telah menunda-nunda untuk berkunjung ke sana sebelumnya. Saya nggak nyangka kalo ternyata Kuwait itu jauuuh lebih modern dari Qatar yang pernah saya ingat.

Berhubung saat kunjungan pertama saya memang belum menikah, orang tua saya sempat membuatkan saya permanent resident, sehingga setiap 6 bulan berikutnya saya pun jadi rajin mengunjungi orang tua saya di sana. Saya sih asik-asik aja ya ke sana, malah saya jadi menganggap apartemen sewaan tempat tinggal orang tua saya di sana sebagai ‘rumah’. Ada sensasi tersendiri setiap saya pergi dan pulang karena setiap saya ke Kuwait itu saya ya seperti merasa pulang ke rumah. *sok keren banget ngerasa pulkamnya ke Kuwait yaaa, hahaha*

Tapi kemudian saya sadar, seasik-asiknya saya pergi, saya sebenarnya sudah berumah tangga. Dan suami saya-yang sangat bergantung kepada saya-sebenernya kesepian berat di rumah setiap saya tinggal pergi ke sana, walaupun hanya untuk satu atau dua minggu aja.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk tidak memperpanjang PR dan berhenti bolak-balik berkunjung ke Kuwait. Saya punya kewajiban yang lebih penting di rumah, saya harus menemani dan mengurus suami saya.

Di perjalanan pulang yang terakhir itulah ternyata saya mulai merenungi akhir perjalanan ini.

Setiap ke Kuwait, kalau tidak menggunakan Kuwait Airways yang transit di Kuala Lumpur, saya biasanya menggunakan Etihad yang transit di Abu Dhabi. Tapi kali itu, saat perjalanan yang terakhir itu, untuk pertama kalinyalah saya menggunakan Emirates, yang transit di tak lain dan tak bukan adalah di Dubai.

Akhirnya saya menginjakkan kaki juga di Dubai, walaupun hanya sebatas di airport saja. Saat pesawat lepas landas dari Dubai International Airport menuju Jakarta itulah saya mengamati pemandangan kota yang ada di bawah saya. Dan tak terasa air mata saya pun mengalir..

Inilah kota yang saya panjatkan dalam doa saya belasan tahun yang lalu. Tapi saya baru menyadari kalau ternyata Allah telah mengabulkan doa saya dengan cara yang lain. Allah sebenarnya telah mengabulkan doa saya, tapi saya yang ternyata telat menyadarinya. Doa yang saya sendiri sudah sering melupakannya itu ternyata punya jawaban, memang bukan Dubai tapi ternyata lebih ke utara. Kuwait-lah yang Ia berikan untuk saya..

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoโ€™a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.โ€ (QS. Al- Baqarah 186)

โ€œTidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah SWT dengan doa, di mana di dalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahim, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara, pertama: Allah akan mengabulkan doanya dengan segera; kedua: Allah akan menyimpan doanya (sebagai suatu pahala) di akhirat, dan; ketiga: Allah akan memalingkan dan menghindarkannya dari suatu keburukan yang sebanding dengan doanya itu.โ€ (HR. Imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri)

Jangan pernah menyepelekan sebuah doa.

image

Saat berada di ruang tunggu Dubai International Airport menunggu panggilan boarding ke Jakarta

***

Kepada teman-teman saya sesama Muslim yang membaca tulisan ini, saya turut mengucapkan: Selamat hari raya Idul Fitri 1436 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum. Jaโ€™alanallaahu minal aidin wal faizin. Semoga Allah menerima amal-amal kita, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk dari orang-orang yang kembali dari perjuangan Ramadhan sebagai orang yang menang. Aamiin…

Advertisements

2 thoughts on “Doa

  1. alrisblog says:

    Setiap kali pesawat terbang melintasi kampungku, dulu waktu kecil, selalu aku teriak begini : oooiii, pesawat terbang saya pengen ikuuut..
    Alhamdulillah, doa masa kecil aku telah menerbangkan aku ke banyak tempat tapi belum ke luar negeri. Coba dulu ya aku tambahkan teriakan itu dengan kata2, “aku pengen ke luar negeri” mungkin saat ini juga sudah bolak balik ke luar negeri juga.
    Subhanallah, saya renungi hadist itu bikin saya terenyuh.
    Janji Allah nyata.

    • arinidm says:

      Saya juga semakin saya baca ayat dan hadits di atas semakin bergetar perasaan saya Mas. Nggak ada kata terlambat untuk berharap Mas, moga-moga segera terkabul untuk bisa terbang ke luar negeri juga, aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s