Jika Allah Berkehendak, Pasti Allah Akan Kasih Jalan

Mungkin di antara teman-teman saya dan suami, kami termasuk yang terlambat punya mobil pribadi. Karena belum punya mobil ini jugalah banyak banget orang di lingkungan kami yang heran kenapa kami belum punya mobil juga, apalagi dokter di daerah itu biasanya kan dianggap lebih “berduit” daripada masyarakat sekitar, yang orang anggap sih harusnya sanggup lah beli mobil pribadi walaupun nyicil. Setiap ngelihat kami ke mana-mana berdua masih naik motor tua (yang udah saya pakai sejak SMA loh! 😀 ), atau ada yang papasan pas lagi perjalanan antarkota (yup, kami udah biasa jalan ke kota lain yang jarak tempuhnya bisa 4 jam itu naik motor aja, maksudnya sih biar lebih praktis dan lebih hemat :mrgreen: ), pastiii orang-orang pada komentar, “Udahlah paaaaak, belilah mobil lagi buuuuuk….” 😆 Mungkin banyak yang berpikiran kami terlalu pelit ngeluarin duit untuk beli mobil kali ya, padahal sih bukan itu alasannya. Beli mobil secara tunai jelas nggak ada duitnya, tapi kalo beli secara nyicil ya gitu, kami takut ada unsur ribanya. 😦 Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saat ini saya dan suami kan dalam rangka mencoba menghindari riba ceritanya.

Sebenarnya kemarin-kemarin saya bisa aja sih minta dibeliin mobil sama orang tua saya, apalagi dari dulu orang tua saya itu udah niat banget pengen beliin mobil untuk kami. Tapi saya selalu nolak, karena saya pengennya daripada dibeliin mobil mendingan uangnya untuk nyekolahin saya S2 aja. Selain itu kadang ada rasa gengsi juga sih kalo urusan gini aja masih dibantu sama orang tua. 😀

Dilema dimulai saat bulan lalu orang tua saya ngirimin uang ke kami dengan amanah, “Dek, ini ada uang hasil penjualan mobil yang lama, uangnya harus dijadikan DP mobil baru ya semuanya, jangan dipakai yang lain-lain, tapi sisanya nyicil sendiri ya!” Saya ngerti sih orang tua saya mungkin kasihan mikirin masih ada anaknya yang harus panas-panasan atau hujan-hujanan keluar kota naik motor gitu, apalagi perjalanannya menempuh waktu berjam-jam pula, sementara anak-anak yang lain hidup dengan aman sentosa, hahaha. Tapi kalo kita tolak bantuannya nanti takut mereka sakit hati pula, sementara kalo orang tua udah sakit hati sama kita takut juga ntar hidup kita jadi nggak berkah. Tapi kami juga takut kalo mobil ini jadi harta yang kurang berkah karena didapat dari cara yang tidak sesuai dengan prinsip kami. Dilemaaaaa banget deh pokoknya. Saya maklum juga sih kalo nggak semua orang terdekat kami memahami keputusan kami untuk menghindari riba ini, kan saya nggak bisa memaksakan prinsip yang saya dan suami anut ke orang lain juga.

Saya dan suami pun memikirkan gimanaaa ya caranya supaya walaupun kami membeli mobil secara kredit berbunga tapi setidaknya kami bisa mengurangi unsur ribanya. Sampai akhirnya ada salah satu ustadz yang juga teman suami yang menyarankan untuk nyoba aja diganti akad pembeliannya.

Dan akhirnya kami pun memberanikan diri ke dealer, mengutarakan maksud kami, dan berusaha mencoba meminta agar akad pembelian mobilnya diganti! Kami minta agar di perjanjian jual-belinya tertulis kalo kami membeli mobil dari pihak O selaku penjual sejumlah X rupiah dengan keuntungan sebesar Y sehingga total nilai jual menjadi Z dengan cara pembayaran dicicil sebesar A selama B tahun. Pokoknya jangan sampai ada kata bunga deh! Hasilnyaaaa, ya jelas nggak bisa lah! 😆 Soalnya karena ini menyangkut pihak ketiga (leasing) jadi kontraknya udah baku se-Indonesia. Pihak dealer cuma bisa ngasih solusi dengan memberikan surat tambahan yang isinya sesuai dengan yang kami inginkan. Kalo kayak gitu sih rasanya kurang afdhol ya.

Kami akhirnya udah sampai pada tahap PASRAH. Tapi kami berpikir setidaknya kami sudah berusaha mencoba dan berjanji kalo bisa ini jadi yang terakhir kalinya kami melakukan hal seperti ini. Yah walaupun apa yang kami lakukan ini dosa, tapi kami harap Allah bisa melihat usaha kami dan kelak bisa mengampuni segala dosa kami. 😦

Tapi ternyata adaaa aja cara Allah untuk melindungi hamba-Nya.

Sehari sebelum kami berencana menyetor uang DP karena dikabari bahwa mobil kami sudah ready, tiba-tiba Mama saya nelpon pagi-pagi dan mengatakan, “Dek bayar cash aja lah mobilnya, nanti akhir bulan Papa transfer sisa uangnya, kalian nyicil aja sama Papa Mama. Soalnya setelah Mama hitung-hitung, kalo kalian beli kredit bunganya bisa sampai 2/3 harga mobil, daripada bayar ke orang mending bayar ke Papa Mama aja nggak ada bunganya, dua tahun udah bisa lunas.” Duarrrrrrr! Saya dan suami sampe terkaget-kaget denger kabar ini. Saya sampai mastiin, ini apa bener orang tua saya ada uangnya sebesar itu, karena saya takut ganggu keuangan orang tua saya, apalagi mereka sekarang sudah pensiun. Tapi orang tua saya meyakinkan bahwa uang sejumlah itu Insya Allah bakal ada di akhir bulan, karena ternyata mereka dapat rezeki dari properti yang disewakan.

Alhamdulilah, alhamdulillah, alhamdulillah..

Saya dan suami sampai nggak nyangka kalau Allah berkenan memberi kami kemudahan sebesar ini melalui rezeki yang diberikan kepada orang tua saya, padahal kami nyadar banget ibadah yang kami lakukan rasanya masih jauuuh di bawah standar-Nya. Saya sampai nanya ke suami apa ada ibadah lain yang dilakukannya pas Subuh sebelum Mama saya nelpon itu, karena saya sendiri cuma sholat Subuh aja tanpa melakukan ibadah tambahan lain. Suami ternyata jawab kalo dia sempat istighfar selama sejam setelah sholat Subuh itu. Masya Allah, apa jangan-jangan berkat istighfar suami tersebut Allah berkenan membuka jalan untuk kami?

Terima kasih Ya Allah karena masih melindungi kami dari perihal riba ini. Akhirnya ada juga jalan keluar agar kami bisa menghindari riba. Rasanya udah bisa bernafas legaaa kami jadinya sekarang.

Ya Allah jadikanlah mobil ini menjadi harta yang berkah bagi kami sekeluarga, aamiin…

Advertisements

8 thoughts on “Jika Allah Berkehendak, Pasti Allah Akan Kasih Jalan

  1. Cut Isyana says:

    Wah keren Mbak. Kalau memang niatnya juga udah bagus, ada aja ya jalannya. Selamat jalan2 pake mobil baru 🙂

  2. satulangkahblog says:

    mba, saya lagi browsing2 blog org tentang pengalaman menghindari riba dan ketemu blog mba. Waaah senang banget rasanya baca pengalaman mba jadi tertular semangat ke saya untuk membulatkan tekad tobat dan tidak membuka riba baru. Jadi kepikiran nanti mau nawarin ke ortu kalau beliau punya uang utk melunasi cicilan kendaraan kami, lebih baik kami cicil ke beliau dengan niat membantu keuangan mereka yang sudah pensiun. terus menulis ya mba ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s