Mencoba Menghindari Riba

Kalo boleh jujur, dulu saya dan suami sebenarnya nggak begitu mempermasalahkan masalah riba ini dalam hidup kami, termasuk saat di awal-awal pernikahan dulu. Kami berpikir kalo segala hal yang berbau bunga itu ya emang biasa dan lumrah, dan kita nggak akan mungkin bisa memenuhi kebutuhan hidup kita yang di bagian “papan” kalo nggak minjam di bank. Ketika suami ingin membeli lahan kebun pertamanya pun kami memutuskan untuk mengambil pinjaman di salah satu bank dengan menjaminkan SK CPNS suami. Sampai akhirnya nggak tahu awalnya gimana tapi suatu saat kami berdua membaca tentang hukum riba dalam Islam dan tergerak untuk mencari informasi lebih jauh tentang ini. Dan ternyata, makin kami cari tahu dan makin banyak informasi yang kami baca, makin kami tersadar kalo ternyata riba itu dosanya besar bangeeet. Dosa yang paling kecil aja katanya seperti ibu yang menzinai anak kandungnya sendiri. O_o

Akhirnya sekitar 2,5 tahun yang lalu saya dan suami bersepakat kalau untuk keluarga inti kami ini, kalo bisa sebisa mungkin kami harus bisa mencoba menghindari segala sesuatu yang ada hubungannya dengan riba!

Awal-awal saat kami sudah memutuskan untuk mencoba menghindari riba, waaah godaan untuk minjam lagi di bank itu besaaaaaar banget karena saat itu kami lagi nggak ada uang padahal ada sesuatu yang pengen suami beli. Setelah berdiskusi panjang dan bersepakat kalo “ini yang terakhir kita minjam ya!”, akhirnya kami ajukan lagi lah permohonan pinjaman ke bank. Tapi anehnya, setelah kami memasukkan permohonan itu eeeh suami malah jadi stres dan nggak bisa tidur terus bawaannya. Ujung-ujungnya kami putuskan untuk nggak beli dan kami batalkan permohonan pinjaman itu deh. πŸ˜€

Mungkin itu cara Allah untuk melindungi kami kali ya?

Nah, semenjak kami mulai mencoba menjalankan prinsip ini, alhamdulillah sejauh ini banyaaak banget kemudahan dan keberkahan yang kami alami yang sering tidak kami sangka-sangka sebelumnya. Walaupun rasanya nggak mungkin terjadi di zaman sekarang ini, tapi alhamdulillah kami ternyata bisa memiliki beberapa aset yang kami beli bermodalkan nyicil sama yang jual dengan azas kepercayaan aja gitu! Mulai dari tanah 4 kavling di Baturaja (Sumatera Selatan), tanah 2 kavling di daerah saya tinggal saat ini, rumah yang sekarang kami tempati, dan bahkan tanah di pinggir jalan di ibukota Provinsi Bengkulu. Tanpa perlu minjam bank dan tanpa jaminan pula. Kalo dipikir-pikir kadang saya dan suami sering bingung juga, kok bisaaaaa ya kita beli barang seharga puluhan juta tapi dibolehin nyicil dan beberapa malah nggak pake tenggat waktu yang ketat pula! πŸ˜• Apakah ini cara Allah meyakinkan kita kalo ternyata kita sebenarnya bisa juga menghindari riba?

Kalo kami bandingkan dengan tiga lahan kebun yang kami beli dari minjam ke bank, kami ngerasa kalo tiga lahan itu beda banget dengan tanah kami yang lain. Entah kenapa yang tiga biji itu adaaaaa aja masalahnya, dan parahnya masalahnya datang dari orang yang kita percaya pula. Mulai dari harga yang dimahalin dua kali lipat tapi luasnya cuma seperempat dari yang dibilang, ada yang ternyata diklaim punya orang lain, atau dijual super murah ke seseorang dengan harapan orang tersebut dapat dipercaya ngurus kebun kami tapi ujung-ujungnya ternyata nggak amanah juga. Setelah dipikir-pikir lagi sekarang, ini mungkin yang namanya harta nggak berkah itu kali ya? :-/

Kami harus akui, walaupun kami sudah komit untuk menghindari riba, tapi hingga saat ini kami mungkin belum bisa yang namanya benar-benar 100% menjauhi riba secara total, apalagi baru-baru ini kami dihadapkan pada suatu dilema yang harus kami hadapi. Tapi walau langkah kami belum sempurna, setidaknya kami sedang berusaha mencoba. Ibaratnya walau masih terseok-seok di pinggir jurang, tapi setidaknya kami masih mencoba untuk menjauh agar tidak jatuh ke dalam jurang tersebut. Ke depannya kami sangaaat berharap untuk bisa benar-benar terhindar dari riba. Mungkin ada suatu saat kami akan terjebak di jalan yang salah, tapi kami hanya berharap semoga itu menjadi kesalahan kami yang terakhir yang tidak akan kami ulangi lagi ke depannya.

Kita harus yakin kalo Allah Maha Pengampun, dan kita hanya bisa berharap semoga Allah mengampuni segala kesalahan kita, aamiin..

Advertisements

4 thoughts on “Mencoba Menghindari Riba

  1. Ein says:

    Alhamdulillah… Sama mba, saya dan suami awalnya nyantai aja. Tp penghasilan besar malah bikin kami ga bisa nabung. Adaa aja rasanya pengeluaran meski sdah berusaha berhemat. Tenyata itu mungkin efek nggak berkah karena terlilit riba. Sekarang pelan tapi pasti kami berusaha melunasi dan tahan2 ga beli aset dengan cara riba. Doakan ya mbaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s