Kenapa Saya Nge-blog?

Saya itu tipe orang yang nggak begitu sering update di media sosial, tapi sekalinya update saya lebih milih untuk posting di blog ini. Alasannya ada dua. Satu, saya itu kalo ada yang pengen diceritain bawaannya nggak bisa berhenti untuk ngetik, rasanya nggak pol kalo nulisnya terlalu singkat padahal masih banyak yang pengen dikeluarin dari otak ini. Kedua, dan rada aneh sih, entah kenapa saya malah nggak begitu nyaman bercerita panjang kali lebar dan dibaca oleh orang-orang yang saya kenal sendiri, termasuk keluarga. Dibaca suami aja bawaannya malu. ^^’

Saya pernah sekali bercerita rada panjang di akun Path saya tentang kucing saya yang waktu itu melahirkan, tapi ternyata saya mendengar dari salah satu teman saya secara tersirat kalau ada teman saya yang lain menganggap saya terlalu kehebohan. Dan saya baru menyadari, komentar seperti itu tidak akan pernah kita alami kalau kita menulis di blog, sepanjang apapun isi tulisan kita. Itulah yang membuat saya lebih suka menulis di blog. Rasanya kita bisa lebih bebas berekspresi dan tidak akan ada yang men-judge keekspresifan kita. πŸ™‚

Anehnya, bercerita di blog dan dibaca oleh orang yang tidak saya kenal secara tatap muka malah membuat saya merasa lebih nyaman. Mungkin karena yang ngebaca blog saya adalah orang yang juga menulis di blog, jadinya saya menemukan wadah untuk ‘berbaur’ dengan orang-orang yang saya anggap mempunyai pandangan yang sama dengan saya dalam hal menulis. Walaupun tidak saling mengenal secara akrab, tapi saya merasa setiap blogger itu saling menghargai tulisan masing-masing dan malah secara tidak langsung saling mendukung tulisan blogger lain, misalnya dengan meninggalkan komentar. Hal yang kadang tidak kita dapatkan dari orang terdekat kita di media sosial populer lainnya. Mungkin karena ini menyangkut minat di bidang tulis-menulis kali ya.

Kalo boleh jujur, karena saya tahu tidak ada satupun orang terdekat saya yang membaca blog saya secara reguler, saya malah bisa lebih jujur dan lebih terbuka di blog saya sendiri. Mungkin kalo orang terdekat saya baca blog saya mereka baru tahu ada beberapa hal yang nggak saya ceritakan langsung ke mereka, hehehe. Sementara di media sosial lain, saya malah merasa walaupun terselubung tapi seperti ada tekanan sosial untuk menunjukkan bahwa kita harus tampil menarik untuk menunjukkan kepada teman-teman lain bahwa ‘hidup kita indah’. Padahal saya tahu, hidup saya ini nggak semenarik teman-teman saya yang lain. Tinggal di dusun, nggak punya anak untuk diceritain perkembangannya, nggak pergi liburan ke mana-mana, nggak makan di restoran yang lagi hits, nggak tinggal di luar negeri, nggak kerja di klinik yang keren pula. Lah, sekalinya ceritain kucing sendiri yang merupakan topik yang menarik bagi diri-sendiri dianggap kehebohan, terus aku harus cerita apa dong? πŸ˜₯ πŸ˜†

Yang unik dari blog ini, kalo kita posting senarsis apapun di blog sepengetahuan saya jarang banget ada yang nyinyirin. Sekalinya kita narsis di media sosial lain pasti adaaaaaaa aja yang bakal ngomentarin secara negatif. Harus saya akui, saya juga kadang termasuk orang yang mikir negatif itu sih kalo ada postingan orang yang terlalu pamer di media sosial, hahaha. Nggak usah jauh-jauh, saya itu punya Mama yang hobinya update melulu di Facebook, ngalah-ngalahin anak dan menantunya pokoknya, sampai saya dan Kakak saya sering ngegosip berdua, ini si Mama ngapain sih dikit-dikit posting mulu ya??? -_-” Tapi saya mikir juga, apa hak saya nge-judge mereka jika itu membuat mereka senang, seperti halnya Mama saya yang merasa senang posting di fb dan saya yang senang nulis di blog. Setiap orang berhak bahagia dengan caranya sendiri kan?

Saya juga sadar sih, blog saya ini juga kurang menarik untuk dibaca. πŸ˜† Isinya cuma seputar kehidupan sehari-hari sih, tapi cuma itu yang saya punya untuk diceritakan. Tapi berhubung saya nulis untuk mengekspresikan diri, saya nggak gitu peduli dengan jumlah follower, ada yang nganggap tulisan saya bermanfaat bagi mereka aja saya udah seneeeeeng banget. Kadang saya sering takjub sendiri kalo ada yang ngucapin terima kasih atas tulisan saya. ^^’ Saya yang orang biasa-biasa aja ini jadi merasa berharga. πŸ™‚

Intinya saya bahagia setiap nulis di blog, dan itulah alasan kenapa saya nge-blog. Ada yang punya alasan lain kenapa nge-blog? πŸ˜‰

Advertisements

3 thoughts on “Kenapa Saya Nge-blog?

  1. rizkaharleni says:

    Saya dulu aktif banget di Facebook. Tapi sekarang udah tutup akun, terus ngungsi ke blog. Hehe.
    Hampir sama sih sama pendapat, mbak. Kalau di blog bebas mau nulis apapun. Di medsos, status saya pasti dibaca sama temen-temen atau sodara, jadi gak ngerasa bebas berekspresi. Nanti dikatain lebay lah, atau apalah. Bawaannya negative mulu.
    Salam kenal ya, mbak. πŸ™‚
    Saya juga baru sebulan lebih nge-blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s