Kilas Balik 2014 dan Resolusi Hidup 2015

Gara-gara tahun lalu saya ngebuat tulisan tentang kilas balik dan resolusi hidup, tahun ini saya jadi kepikiran untuk ngebuat tulisan yang sama. Soalnya saya baru nyadar sekarang, kalau saya tuliskan secara terstruktur dan sistematis seperti ini (anggap ajalah udah terstruktur dan sistematis yaaa 😆 ) ternyata peluang tercapainya bisa lebih besar loh! Walaupun cuma satu atau dua aja yang terwujud.

Jadiii, apa saja yang sudah saya (dan suami) alami dan capai tahun 2014 kemarin???

1. Alhamdulillah, saya sudah mulai mencoba berpakaian lebih syar’i. Ke mana-mana sudah mulai pakai gamis dan kerudung sepanjang siku yang menutupi dada. Tapiii masih belum pakai kaos kaki nih, bandel banget saya bawaannya masih malasss aja, huhu. Tapi emang loh semenjak saya memutuskan mulai belajar merubah penampilan, sekarang saya malah jadi rada risih kalo pake celana atau baju rada ketat atau kalau kerudungnya rada pendek atau bahannya rada tipisan. Walaupun, saya sesekali masih pake celana sih kalau harus naik motor antarkota yang waktu perjalanannya butuh berjam-jam, soalnya masih rada ribet ya pake rok pas naik motor, nggak bisa duduk lama-lama dengan posisi nyamping sih kalo jarak tempuhnya jauh. Yah namanya juga masih proses, walaupun belum sempurna dan masih jauh dari yang seharusnya, setidaknya saya sedikit demi sedikit sudah memulai lah.

2. Beli rumah! Ini pencapaian besar kami sekeluarga dan Masya Allah kalo dipikir-pikir sekarang masih nggak nyangka aja kami udah punya rumah sendiri sekarang. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah..

3. Memutuskan untuk tidak praktek, karena nggak tahu kenapa rasanya saya emang nggak mau aja melakukannya. Saya sebenarnya sudah mencoba praktek lagi, tapi cuma dua minggu aja bertahannya di sepanjang tahun ini, haha. 😆 Walaupun banyak yang bilang ke saya kalo sayang ilmu yang saya dapat dengan capek-capek sekolah ini tidak diaplikasikan, apalagi saya juga tidak ada anak yang perlu diurus (ehm, ternyata ngurus suami nggak masuk hitungan yang lazim perlu diurus ya ❓ ), tapi setidaknya saya cuma ingin waktu untuk break dulu dari pekerjaan ini, saat ini. Minimal saat ini saja dulu, karena saya tahu saya pasti mengecewakan orang tua dan keluarga besar saya jika saya benar-benar memutuskan berhenti dari dunia kedokteran gigi. Mungkin kalau suatu saat sudah saatnya saya siap kelak saya akan berkarir lagi di bidang praktek kedokteran gigi. Btw, ssssttt, Papa saya nggak tahu loh kalo saya sekarang (lagi) nggak praktek (dulu). :mrgreen:

4. Lalu kejadian di atas pada akhirnya kemudian membawa saya menemukan bidang ilmu baru yang baru saya sadari kayaknya ini yang ingin saya tekuni. Saya ingin mempelajari Epidemiologi! Terdengar sangat aneh bagi seorang dokter gigi ya, dan ini bukan bidang yang seksi dan tidak menghasilkan uang banyak seperti halnya kalo kita berkarir di bidang kedokteran gigi estetis. Tapiii membayangkan apa yang bisa saya lakukan jika saya memperdalam ilmu ini aja saya bawaannya bersemangat loh.

5. Tapi sayangnya, saya batal mencoba sekolah lagi, padahal saya sudah mendaftar untuk ikut ujian masuk S2 Epidemiologi di salah satu universitas negeri dan udah mulai belajar untuk ikut ujian masuknya, pokoknya udah bersiap mau ikut ujian deh. Tapi kurang sebulan sebelum ujian saya putuskan untuk tidak mencapai impian sekolah dulu. Alasannya, saya nggak mau egois mencapai impian saya tapi harus berjauhan dengan suami, apalagi sampai 2 tahun gitu. Gimanapun menjadi istri adalah tanggung jawab dan kewajiban saya yang utama. Tapi teteup yaaa, membiarkan uang pendaftaran sebanyak 750 ribu itu hangus begitu aja rasanya nyesek juga. 😆

6. Mengalami peristiwa paling tidak disangka sepanjang hidup saya dan suami. Tapi untuk yang satu ini saya nggak bisa cerita lebih jauh, karena ini berhubungan dengan aib keluarga orang lain, tapi saya dan suami mau tidak mau terpaksa terlibat lebih jauh, walaupun sebenarnya kami sama sekali nggak mau terlibat, apalagi ini masalah internal keluarga orang pula. Udahlah ini masalah orang, tapi saya dan suami yang jadinya nggak bisa tidur selama berminggu-minggu karena mikirin dan kepikiran terus, dan karena pikiran kami terforsir ke masalah ini akhirnya malah jadi berpengaruh ke kondisi internal kami berdua sendiri, padahal bukan kami yang punya masalah coba, ckckck. Tapi gara-gara ini kami berdua jadi menyadari untuk mulai memilah dengan seksama siapa yang benar-benar tepat dijadikan teman akrab, apalagi kalo yang make-make ilmu hitam ya, nggak cocok bangetlah dengan prinsip keluarga kami ini.

7. Usaha suami yang berlika-liku. Untuk praktek sih alhamdulillah nggak ada masalah. Malah kami kedatangan dokter gigi baru yang kebetulan lagi dinas di daerah kami ini dan ikut praktek juga di tempat kami, jadi suami bisa lebih banyak waktu di luar praktek karena ada yang gantiin kalo dia lagi ada yang perlu diurus atau mau istirahat dulu. Kalau sebelumnya kan mau nggak mau harus buka praktek terus karena pasien juga nggak ada pilihan bisa ke dokter gigi lain kalo prakteknya tutup (maklum sayanya kan nggak praktek, hehe). Kalo usaha di bidang perkebunan dan peternakannya nih yang rada berlikuuu banget. Rada susah mencari orang yang bener-bener mau bekerja, bukan dikit-dikit uang dikit-dikit uang. Btw, kambingnya suami sempat mati sampe belasan ekor gitu loh, dan akhirnya suami memindahkan kambingnya untuk diurus orang lain yang lebih bertanggung jawab. Alhamdulilah tanggal 17 November kemarin Allah ganti dengan kelahiran seekor anak kambing yang sehat dan lucu. 🙂

Anak kambingnya seneng banget pas dikunjungi si Abang :lol:

Anak kambingnya seneng banget pas dikunjungi majikannya 😆

8. Ditawari ikut pengangkatan dokter PTT menjadi CPNS di daerah tempat saya tinggal ini. Awalnya saya pikir saya nggak bisa ikut ya secara saya statusnya kan mantan PTT bukan masih PTT. Eh ternyata suatu pagi saya ditelepon pegawai Dinkes ditanya apa berminat ikut pengangkatan atau nggak dan beliau bilang kalau dari peraturannya yang pasca PTT pun bisa ikut diangkat juga. Ya sudah pagi itu juga saya kelabakan ngurus semua persyaratannya sampai nggak sempat mandi dulu sebelum berangkat, hahaha. 😆 *jangan ditiru yak* Tapiii sayangnya sampai saat ini belum ada kabarnya lagi tuh, jadi saya nggak banyak berharap juga. Namanya juga nyoba.

9. Melihara kucing dan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Padahal dulu saya nggak gitu demen ama kucing loh, malah lebih demen sama anjing, dan waktu kecil dulu keluarga saya lebih seringan melihara anjing daripada kucing karena nganggap anjing itu lebih menggemaskan, lebih setia, dan bisa jagain rumah (iyaaa, saya padahal tahu anjing itu najis tapi nafsu mengalahkan iman dan takwa dah dulu, tapi sekarang udah tobat kok). Eh ternyata saya salah, kucing juga menggemaskan, setia, dan bisa jagain rumah juga tuh, hahaha.

Nah, untuk tahun 2015 ini ada resolusi yang ingin saya capai. Kali ini saya tulis yang beneran pengen dan bisa saya capai di tahun ini aja dulu deh, nggak yang muluk-muluk dulu.

1. Suatu hari saya teringat dengan impian lama yang pernah saya tulis di sini yang sempat terlupakan. Emang sih dari sekian banyak yang saya tulis ada beberapa yang sekarang sudah tidak jadi minat saya lagi sama sekali, seperti pengen jadi Sp.KG misalnya, hahaha. Nah, di situ saya kan ada tulis saya pengen punya skor TOEFL atau IELTS, tapiii ya gitu saya seringnya cuma pengen aja tapi nggak ada eksekusinya. 😆 Jadiii, tahun 2015 ini saya sudah komit harus punya salah satu skor tersebut, terlepas untuk apa hasilnya digunakan kelak dalam 2 tahun ke depan, saya yakin pasti ada manfaatnya. Nah karena saya itu orangnya suka gampang terdistraksi tiap belajar mandiri (alias kalo nggak digeber suka males-malesan dan nggak fokus gitu, haha), jadi saya memutuskan untuk ikut IELTS Prep, rencananya di IALF Jakarta. *terima kasih papa-mama atas bantuan dananya, secara kursusnya muahalll benerrr* Kenapa jadinya IELTS? Saya pengen bisa menulis dengan baik dan benar dalam bahasa Inggris, dan dari hasil googling (atau blogwalking? apa bedanya sih dua istilah ini??) banyak yang lebih rekomendasiin IELTS sih. Btw, saya sudah placement test dan alhamdulillah lulus, Insya Allah kalau lancar saya mulai lesnya bulan Februari ambil yang intensif dua minggu (karena kalo nggak yang dua minggu kasihan juga kalo suami saya ditinggal lama-lama). Saya targetkan bulan April saya sudah ikut tesnya, dan walaupun sebelumnya saya menargetkan untuk dapat skor 6, kali ini saya meningkatkan target saya untuk bisa dapat skor 6,5! *aaamiiin*

2. Lunasin rumah. Iyaaa, seperti yang sudah saya tulis di sini, saya kan beli rumah masih nyicil sama pemilik lamanya. Masih sisa 38 juta lagi nih, dan saya dan suami targetkan bisa lunas dalam 6 bulan ke depan, Insya Allah, aamiin!!!

3. Nabung untuk dana liburan. Saya dan suami emang jaraaaaang banget liburan keluar kota berdua yang emang bener-bener terencana. Habisnya uangnya suka kepake mulu untuk kepentingan yang lain sih, huhuhu. Tapi kami sudah bertekad kalo rumah sudah lunas kami harus nabung untuk liburan ke Bali! ~> Ini gara-gara nonton nikahan Raffi-Gigi nih jadinya pengen ke Bali duluan, padahal destinasi awalnya bukan ini yang pertama, hahaha.

4. Perjalanan hidup tahun 2014 kemarin membuat saya dan suami sekarang semakin berkomitmen untuk sebisa mungkin selalu ke mana-mana berdua. Pokoknya jalani hidup bersama-sama terus deh Insya Allah dalam suka dan duka. Sekolah lagi memang selalu jadi obsesi saya setiap tahunnya, tapi saya akan bersabar dan yakin akan tiba saatnya saya bisa sekolah tanpa harus berjauhan dengan suami saya kelak.

Segitu dulu aja deh resolusinya. Mohon doanya semoga harapan saya bisa terwujud yaaa dan mari kita saling mendoakan semoga tahun 2015 ini menjadi tahun penuh keberkahan bagi kita semua. Aamiin..

Advertisements

2 thoughts on “Kilas Balik 2014 dan Resolusi Hidup 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s