Pony

Si Pony. Waktu pertama kali dia lahir, yang mencolok dari dia adalah warna bulu di kepalanya yang simetris seperti poni rambut yang dibelah tengah. Oleh karena itulah saya beri dia nama Pony, dengan mengganti huruf i menjadi y karena menyesuaikan dengan nama saudaranya yang lain yang kebetulan semua berakhiran dengan huruf y. Biar seragam maksudnya. Dia anak kedua, dan ternyata satu-satunya betina di antara yang lain. Dan yang paling kentara menurut saya, dia itu yang paling cengeng. Nggak kayak saudaranya yang lebih tenang dan kalem, Pony ini dikit-dikit ngeong. Dan sekali ngeong dijamin susah berhenti. Kayak anak bayi yang suka nangis banget deh pokoknya. 😀

Pony umur 4 hari

Pony umur 4 hari

Beberapa hari setelah anak-anak kucing lahir, saya perhatiin di antara yang lain ntah kenapa si Pony ini yang paling kurus, berat badannya nggak bertambah dengan pesat jika dibandingkan dengan saudaranya yang montok-montok. Padahal dia juga rajin nyusu loh. Awalnya saya pikir mungkin ini normal karena dia betina jadi rangka tubuhnya mungkin nggak sebesar saudaranya yang jantan. Begitu awalnya perkiraan saya. Sampai akhirnya pada tanggal 4 Desember kemarin, saya terbangun sebelum adzan Subuh berkumandang. Dan seperti biasa, seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya, saya sempat kaget dulu karena ada anak kucing diletakkan si Bambu di dekat saya. Tapi kali ini Pony diletakkan di bahu saya, dan Bambu ada juga di sebelahnya sambil mengeong. Seperti mau ngabarin sesuatu tapi saya belum ngeh. Sampai ketika saya mau mindahin Pony kembali ke kasur kardusnya, saya kaget saat memegang badan Pony yang dingin, nggak sehangat biasa. Sampai saya bandingkan dengan suhu tubuh kucing yang lain, memang tubuh Pony ini jauh lebih dingin. Saya perhatikan di dekat posisi saya tidur tadi basah kayak bekas ngompol, saya pikir Pony pipis di situ. Tapi saat saya cium bagian basah itu ternyata tidak ada bau pesing. Lalu saya baru sadar, perasaan pantatnya tadi bukan di situ deh posisinya, apa jangan-jangan itu posisi mulut Pony?

Dan akhirnya saya baru nyadar ada sesuatu saat mendengar Pony mengeong, dan eongannya tidak seperti biasa. Eongannya satu-satu, sesuai dengan nafasnya yang juga satu-satu. Saya coba meraba-raba di mana posisi jantung, dan saya rasanya tidak merasakan adanya detak jantung yang kuat. Saya cemas sekali rasanya, walaupun dalam hati masih mencoba berpikiran positif mungkin memang tidak terasa kuat karena mungkin saya yang salah posisi karena saya sendiri kan memang minim ilmu anatomi kucing. Saya kemudian mengabari via sms ke suami yang kebetulan lagi ada tugas seminar di Medan, walau saya tahu suami juga nggak bisa ngasih solusi sih, tapi minimal bisa menenangkan saya aja dulu.

Tapi entah kenapa saat itu saya juga jadi berfirasat rasanya Pony nggak akan bertahan lama. Saya pisahkan posisinya dari saudaranya yang lain, walaupun saya perhatikan saudara-saudaranya (mungkin) mencoba menghangatkan Pony dengan menimpuk badannya. Bambu pun masih menjilat-jilat Pony berkali-kali. Dari subuh itu saya cek terus kondisinya, namun makin lama makin sulit saya memastikan keadaannya, ditambah badannya yang tetap dingin. Sampai akhirnya saat jam 8 pagi saya kembali cek, ternyata sudah tidak ada suara lagi, tidak teraba detak jantung sama sekali, digangguin tidak ada respon, dan semua badan sudah dingin kecuali kaki yang masih terasa sedikit lebih hangat dari yang lain, walaupun tetap termasuk dingin jika dibandingkan dengan suhu normal biasanya.

Sepertinya dia baru saja dipanggil.. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Sontak saya menangis.

Rasanya kemarin Pony masih baik-baik saja, tidak ada apa-apa. Apalagi saat melihat Bambu yang masih menjilat-jilat Pony, sepertinya dia nggak sadar anaknya sudah nggak ada lagi. Sampai saya harus bilang ke si Bambu kalau Pony udah mati, walau saya yakin Bambu juga nggak ngerti sih apa yang saya bilang. Tapi kalau saya nggak ngecek mungkin saya juga nggak akan nyadar kalau Pony udah mati. Posisinya manis sekali, seperti sedang tertidur..

Ini pertama kalinya saya menguburkan sendiri hewan peliharaan saya. Dan saya juga turut menanamkan bibit bunga matahari di atas kuburannya sebagai penanda. Aduh pas menguburkan itu rasanya nggak tega saya. Ya ampun sama kucing sendiri aja udah begini perasaan saya, gimana kalau saya kehilangan orang yang saya cintai ya.. 😥 Tapi saya sebagai Muslim harus ingat kalau itu memang ketetapan Allah SWT yang memang harus diterima dengan ikhlas.

Pony sebelum dikubur. Kayak lagi tidur ya? Padahal udah tidur selamanya.. :-(

Pony sebelum dikubur. Kayak lagi tidur ya? Padahal udah tidur selamanya.. 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s