Inikah Duniaku?

Setelah enam tahun kuliah dan empat tahun menyandang gelar dokter gigi, saya baru menyadari kalau ternyata.. saya tidak menikmati berkarir di bidang yang satu ini..

Flashback ke 10 tahun yang lalu, saat saya masih kelas 3 SMU. Kalau boleh jujur, saat itu saya tidak tahu saya kuat di mata pelajaran apa karena saya merasa semua standar saja (yang saya tahu saya sangat lemah di Fisika), saya tidak tahu saya sukanya apa, dan saya tidak tahu mau menjadi apa karena Papa saya yang otoriter hanya membolehkan saya kuliah di Kedokteran, tidak boleh selain dari yang itu (maklum, selain Papa saya termasuk tipikal orang tua Indonesia yang ngebet ingin anaknya jadi dokter, Papa saya juga ingin mewujudkan impiannya yang tidak bisa jadi dokter melalui anak-anaknya). Jadi saya tidak membuka wawasan akan pilihan apa saja yang tersedia untuk bisa saya tekuni, toh pada akhirnya pasti tidak boleh juga sama Papa saya. Jadi ya sudahlah terima nasib saja.

Sebenarnya saya sadar diri otak saya ini pas-pasan. Semua teman saya yang memutuskan ingin jadi dokter bisa dipastikan semuanya memiliki kemampuan otak di atas rata-rata, dan lebih tepatnya lagi di atas saya. :mrgreen: Jadi saya sadar untuk bisa lulus seleksi ujian masuknya saja (SPMB atau UMPTN atau SMPTN atau apalah namanya saat itu saking seringnya diganti istilahnya sama Pemerintah) jelas saya harus belajar mati-matian bersaing dengan orang-orang pintar lainnya se-Indonesia, padahal seumur hidup saya nggak pernah tuh yang namanya belajar dengan serius karena saya termasuk pemalas. πŸ˜† Kuliah di PTS kan bisa kalo ternyata ga lulus di PTN? Kedokteran PTS aja saya nggak lulus tuh seleksinya. πŸ˜†

Sampai akhirnya suatu saat saya terpikir, apa yaaa kuliah yang tetep jadi dokter (sesuai kehendak Papa saya) tapi nggak sesusah Kedokteran? Tiba-tiba tiiiiing, Β muncullah kata Kedokteran Gigi di benak saya. Kalo dokter umum kan harus mempelajari seluruh badan tuh, kalo dokter gigi kan cuma gigi aja, jadi kayaknya nggak susah-susah kali lah, pikir saya saat itu. Jadi akhirnya saya memutuskan okelah, kalau begitu saya akan ambil Kedokteran Gigi aja!!! πŸ˜† *Btw setelah saya menjalani kuliahnya barulah saya sadar kalau ternyata dulu saya salah besar, siapa bilang kuliah di FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) nggak sesusah FK (Fakultas Kedokteran)??? Saya sendiri ding yang bilang padahal, huhuhu.*

Jujur saya awalnya sempat ragu untuk ambil Kedokteran Gigi. Saya aja waktu kecil histeris luarrr biasssaaa tiap dibawa ke dokter gigi, tapi pas gede malah mau jadi dokter gigi pula??? Udah gitu saya nggak ada jiwa seni sama sekali di tubuh saya ini, gimana mau nambal gigi yang bolong jadi berbentuk seperti gigi utuh lagi??? Tapi, saat itu saya berpikir, lah kan karena nggak bisa makanya belajar di sana, pasti lama-lama bisa lah itu. Kalau nggak ngambil itu emang saya punya pilihan lain? Nggak ada kan? Daripada jadi dokter (umum), jadi ya mau nggak mau harus bulat tekad ini untuk jadi dokter gigi.

Alhamdulillah akhirnya saya lulus ujian masuk FKG di salah satu PTS di Jakarta. Legaaa rasanya hati ini berpikir minimal kalau saya nggak lulus SPMB saya masih tetep bisa lanjut kuliah lah. πŸ˜† Eeeeeh tak disangka tahu apa reaksi Papa saya saat tau saya lulus di FKG tersebut??? Bukannya bahagia malah MARAH BESAR sodara-sodaraaa.. *tepok jidat* Yang jadi korban kemarahan tidak hanya saya tapi orang-orang yang dianggap mendukung rencana saya, seperti Mama (tentunya) dan Oom dan Bibi saya yang terdekat dengan saya (padahal Oom dan Bibi mah sama sekali nggak tahu tuh, kasian banget mereka ikut disemprot jadinya, hehehe). Kata Papa saya saat itu, apa itu dokter gigi??? Nggak sama itu dengan dokter!!! Maklumlah bagi Papa saya (dan mungkin banyak juga orang yang berpikir seperti itu) kalo status dokter gigi itu kan masih di bawah dokter umum, nggak selevel lah, hehehe.

Tapi entah kenapa tekad saya untuk menjadi dokter gigi semakin kuat. Saat mendaftar SPMB pun saya memilih keduanya sama-sama di FKG. Ehm, awalnya Papa tahunya salah satu pilihan saya FK loh, dan membolehkan pilihan keduanya FKG tapi harus UI. Sampai Papa saya ngejanjiin kalau lulus di tempat yang Papa saya mau saya bakal dibeliin mobil segala loh. πŸ˜† Tapi maaf Pa, sogokannya nggak berhasil tuh. :mrgreen:

Dan kayaknya, cuma Papa saya satu-satunya orang tua yang tidak bahagia saat mendengar anaknya lulus SPMB.. Saya masih ingat datarnya suara Papa saat saya menelpon mengabari kalau saya lulus SPMB, tapi di FKG, dan sayangnya bukan UI..

Tapi seluruh peristiwa ini membuat saya benar-benar bertekad untuk serius belajar. Saya pertama kali ngerasain yang namanya belajar dengan sungguh-sungguh itu ya waktu kuliah. Saya selalu rajin mencicil hafalan. Saya sengaja menunda beli TV karena tidak mau terganggu antara keharusan belajar dengan keinginan untuk menonton (walaupun akhirnya saya beli TV juga pas mau skripsi karena banyakan nganggur nggak ada kerjaan di kosan). Dan saya dengan bangga bisa mengatakan selama 6 tahun saya di FKG saya nyontek cuma 2 kali loh, hahaha. Satu saat ujian praktikum anatomi itupun hanya satu soal saja, dan satu lagi ujian yang saya tidak mau lagi mengingatnya karena jadi penyesalan seumur hidup bagi saya karena telah menyontek, huhuhu. 😳 Tapi bisa dianggap semua nilai yang saya dapat termasuk murni lah dari otak saya sendiri. :mrgreen:

Namun ada satu yang tidak orang lain ketahui, termasuk orang-orang terdekat saya. Saya senang mempelajari teori ilmu kedokteran gigi, malah terkadang saya merasa bersemangat setiap membaca sesuatu. Tapi jujur, saya sama sekali tidak suka dengan kerjaannya.

Dampaknya baru saya rasakan sekarang. Saya memang lulus menjadi dokter gigi dan alhamdulillah saya lulus menyandang predikat lulusan dokter gigi berprestasi peringkat tiga dan mendapat plakat penghargaan saat pengambilan sumpah, membuat orang tua saya bangga, membuat Papa saya akhirnya mengakui pilihan saya tepat menjadi dokter gigi, membuat Papa saya bangga karena saat pengambilan sumpah dokter gigi Papa saya diberi kesempatan untuk menyampaikan sambutan mewakili orang tua, tapiii setelah menjalaninya saya baru menyadari kalau bukan ini pekerjaan yang saya mau lakukan sehari-hari, bukan ini rutinitas yang membuat saya bangun di pagi hari membuka mata dengan semangat. Rasanya, bukan ini.

Ya Allah, menjadi dokter itu bebannya berat sekali, walaupun saya ‘hanya’ dokter gigi yang menurut orang cuma ngurusin gigi aja, tapi saya suka ‘serem’ sendiri tiap membayangkan ada seseorang yang menggantungkan kesehatannya kepada saya, walaupun sebenarnya saya hanya perantara karena kesehatan pastinya hanya Tuhan kita yang memberikan. Setiap bangun pagi saya selalu berpikir, Ya Allah bisakah aku lancar mengerjakan pasien hari ini? Apakah hari ini pasien yang kukerjakan bisa aman-aman saja? Bisakah hari ini berjalan sesuai dengan yang aku harapkan? Jujur, saya jadinya jarang bangun pagi dengan bugar. Bawaannya selalu dag-dig-dug dan baru bisa tenang ketika jam praktek berakhir. Tapi kembali gundah gulana saat bangun pagi.

Saya sudah sampai di tahap saya tidak mau praktek lagi. 😦

Bolehkah saya bertanya, kenapa hanya saya saja yang terlalu memikirkan ini? Kenapa teman-teman saya sesama dokter gigi yang lain tidak seperti saya? Dan kenapa saya tidak bisa enjoy menikmati dunia praktek kedokteran gigi ini seperti halnya mereka?

Apa saya yang tidak pandai bersyukur? Atau ternyata ini memang bukan dunia saya?

Advertisements

4 thoughts on “Inikah Duniaku?

  1. Rafiqi says:

    Selalu percaya bahwa Allah pasti akan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. menurut saya itu yang terbaik buat kakak. Dan kuncinya coba selalu mencintai pekerjaan itu walaupun susah. Semangat kaak !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s