Beli Rumah Tanpa Riba. Emang Bisa?

Ternyata bisa banget! Kalau kita memang yakin kepada-Nya.

Akhir tahun lalu saya pernah menulis kalau salah satu resolusi hidup saya untuk tahun 2014 (tahun ini) adalah mulai membangun rumah karena saya benar-benar ingiiin sekali ngerasain tinggal di rumah sendiri. Tapiii, kami masih agak pesimis karena tanah yang kami punya masih terkendala dengan akses jalan, jadi kami realistis aja kayaknya tahun ini kami masih bakal perpanjang kontrak di rumah yang sekarang kami tempati. Sampai suatu saat tiba-tiba kenalan kami yang juga seorang tukang bangunan (yang memang sudah kami rencanakan jika kelak kami membangun rumah kami akan menggunakan jasanya) menelpon suami dan mengajak untuk melihat tanah rumah kami tersebut. Di situlah dia memberi pencerahan kalau kami tetap bisa membangun rumah dan memberi solusi bagaimana caranya kami bisa menemukan akses jalan untuk masuk ke rumah kami (jika sudah dibangun kelak). Waaah, setelah mendengar penjelasan itu kami jadi semangat dan mulai menyusun rencana pembangunan.

Saya awalnya optimis ya kami bisa menjalankan pembangunan rumah walaupun dimulai dari sebatas membangun fondasi saja dulu. Saya sampai bikin target pokoknya bagaimanapun bentuk rumahnya saya ingin kami sudah bisa menempati rumah tersebut di bulan Juli ini, karena kebetulan kontrakan kami memang habis di bulan Juli. Pokoknya sudah besar sekali lah harapan saya untuk bisa memiliki dan tinggal di rumah sendiri (maklum, kan emang saya yang ngebet pengen punya rumah sendiri).

Sampai suatu saat suami buka suara kalau dia tidak yakin untuk membangun rumah tersebut karena kendala biaya. Apalagi suami saya berprinsip dia tidak mau ngambil pinjaman di bank atau apapun yang ada kaitannya dengan riba. Seketika langsung hancurrr harapan saya berkeping-keping sampai jadi serpihan-serpihan debu. 😥 Lebay sih, tapi memang begitulah adanya perasaan saya. Namun, dalam rangka komitmen saya untuk menjadi istri sholehah, saya dukung apapun keputusan suami. Walaupun pake acara nangis dalam hati juga sih. 😆

Dan rencana membangun rumah pun kami coret dari daftar rencana tahun ini. CORET!

Tak disangka, karena satu dan lain hal suami tiba-tiba membuat rencana untuk hengkang dari daerah ini. Rencana hidup kami pun akhirnya berubah total dari yang selama ini direncanakan. Walaupun keluarga dari pihak suami agak keberatan dengan rencana ini (sementara di sisi lain orang tua saya sangat mendukung, karena memang Papa saya sebenernya keberatan kalau kami tinggal di desa), suami saya tetap maju tak gentar mempersiapkan langkah selanjutnya untuk kepindahan kami. Sayangnya (atau mungkin malah sebenernya untungnya???), rencana ini gagalll terwujud. Btw, setelah dipikir-pikir sekarang sih barulah kami sadari hikmahnya kalo ternyata kegagalan itu emang yang terbaik untuk kehidupan kami ke depannya.

Nah singkat cerita (ehm, sebenernya emang ceritanya singkat aja sih, karena semua ini terjadi emang cuma dalam waktu 5 bulan aja!), ketika akhirnya kami memutuskan untuk menerima kenyataan bahwa kami memang ditakdirkan untuk menetap di sini (selamanya?), tiba-tiba ada temen kantor suami yang menawarkan kembali rumahnya yang dijual karena dia mau pindah ke kota sebelah. Sebelumnya dia memang pernah menawarkan, tapi karena kami fokus dengan rencana pindah jadi masih kami abaikan tawaran tersebut. Selain itu, rasanya saat itu saya masih belum sreg aja dengan rumah tersebut. Tapi ketika ditawarkan untuk yang kedua kalinya, saya dan suami pun langsung berdiskusi alot. Maklum, karena saya tahu kami nggak punya uangnya dan suami juga memang nggak mau minjam bank lagi jadi saya berpikir: Dari mana uangnya??? Suami saat itu hanya mengatakan, “Kita kan mau menghindari riba nih. Jadi kita mintalah sama Allah, kan kita mau mengikuti perintah-Nya, jadi minta sama Dia untuk dikasih jalan keluarnya. Pokoknya kita jujur aja kalo sekarang kita emang nggak punya duitnya. Kalo boleh nyicil kita ambil. Kalo nggak ya udah, yang penting kita udah berusaha, gitu aja. Pokoknya yakin aja!”

Ya udah deh saya nurut aja apa kata suami. Kami pun bersiap bertemu dengan teman tersebut di rumahnya, sekalian melihat lebih teliti bentuk rumahnya seperti apa.

Entah kenapa saat melihat rumah tersebut (untuk yang kedua kali) saya kok langsung sreg ya. Walaupun kalau istilah orang sini masih tegak payung, alias masih bentuk bata tanpa diaci dan belum di-finishing sama sekali, dan atapnya pun masih seadanya, tapi langsung ada keyakinan aja untuk memiliki rumah itu. Dan Masya Allah, nggak disangka kami super-duper dikasih keringanan untuk pembayaran rumahnya sesuai dengan yang kami harapkan, boleh dicicil! Ngelunasinnya pun boleh tahun depan. Malahan beberapa hari kemudian udah langsung dikasih aja kuncinya karena mereka sudah angkat barang untuk pindah. Harga rumahnya mau tahu berapa? Cuma 68 juta saja! Udah bersertifikat pula. Dengan LT 142,5 m2 dan LB 36 m2, semua orang bilang kami beruntung sekali bisa mendapatkan rumah semurah itu.

Sejujurnya, kami yang sangat beruntung mendapat penjual rumah yang sebaik itu. Nggak pernah menyangka kalau penjual rumah tersebut juga satu visi dan misi dengan kami untuk menghindari riba.

Insya Allah setelah lebaran nanti kami akan mendiami rumah baru kami, rumah kami sendiri. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat-Mu Ya Allah karena ternyata walaupun setelah dipikir-pikir pakai logika rasanya mustahil, tapi tetap Engkau kabulkan doa hamba yang ingin punya rumah sendiri di tahun ini, di bulan sesuai dengan yang hamba targetkan pula! Walaupun rumahnya tidak sebagus rumah orang kebanyakan, tapi kami bangga bisa mengatakan, inilah istana kami.

Terakhir, kalau boleh saya mengutip salah satu tag iklan: Hindarin riba?? Siapa takut!!

image

Biarpun rumah kami jelek di mata orang-orang, semoga rumah ini indah di mata Allah..

Advertisements

17 thoughts on “Beli Rumah Tanpa Riba. Emang Bisa?

  1. Felicityfelicity says:

    Wow…selamat ya jeung….. akhirnya….niatnya terwujud juga….. Kalau memang sudah jodoh nggak akan kemana2x deh 🙂 Kapan mulai pindahan? Bakalan sibuk lagi nih kayaknya packing2x dll….. Jadi terinsiprasi menulis pegalaman kita juga saat beli rumah di sini…. yang ada mirip2xnya…. Betul banget, di balik kegagalan dari sesuatu pasti ada hikmahnya…. 🙂

    • arinidm says:

      Iyaaa Mbak, akhirnyaaa terwujud jg. Kyknya kalo udah punya rumah sendiri rasanya legaaaa banget. Rencana pindahannya awal Agustus Mbak, tapi belum packing-packing nih. Berhubung barangnya nggak banyak jadi bawaannya suka nunda terus nih Mbak, hehehe. Btw ditunggu loh Mbak tulisan tentang pengalaman beli rumahnya, nggak sabar nih pengen baca ceritanya 🙂

  2. Asep Ahmad J says:

    🙂 wah kuren mba cerita pemblian istana baru nya, smoga lncar hingga plunasannya.
    stahun lalu saya pusing, smangatz, antusias, cari banyak lokasi rumah, tapi yg mash mrah… beda dengan skarang udah pada naik harga rumah,diperumahan
    ..stelah membaca postingan ini…smangatz, antusias, dan doa harus dgiatkan lagi untuk terwjudnya istana saya kelak, ya mkipun blum brkeluarga tpi amat ingin punya rumah sndiri…
    Semoga Semua lancar, dan diberi rezekinya, kalau ada tntangan smoga bisa sabar… 🙂

    • arinidm says:

      Aamiin, terima kasih doanya Mas dan semangat jg untuk Mas semoga bisa segera mendapatkan istananya jg, kalo kita yakin Insya Allah pasti ada jalannya 🙂

  3. Mahdi Hidayat says:

    Subhanallah, nice story
    Begitulah “jalur” yang telah Allah Swt buat, sungguh Indah.
    Jadi bersemangat berdoa dan menabung supaya punya rumah sendiri
    Terima kasih Mbak ceritanya

    • arinidm says:

      Ya betul sekali Mas, Allah SWT selalu memberikan jalan yang tidak terduga yang sering tidak kita sangka ya. Alhamdulillah kalo cerita saya bisa menginspirasi Mas Mahdi, semoga Mas juga bisa mewujudkan impian-impian Mas, aamiin..

  4. Muhammad says:

    Bismillah. Saya nyasar ke blog ini dalam pencarian ttg IELTS Prep.

    Baarakallaahu fiiki, mbak Arini DM. Saya terharu bacanya. Saya jg keluarga baru yg terus meyakinkan istri sy utk gak terlibat riba sesuai dg kemampuan yg Allah izinkan pd kami. Saat ini kami msh mencicil tanah sm tuan tanah yg baik bgt mengizinkan dibayar dg dicicil dg jangka waktu yg panjang, ahsanallahu ilaihi. Kalaulah akan memakan waktu lebih lama, atau “hanya” bisa membangun seadanya, biarlah Allah berkahi yang ada itu. Pengalaman mbak & saya yakin banyak org lainny mmbuat saya semakin yakin bahwa Allah Maha Mendengar doa Hamba-Nya. “Dan siapa yg bertakwa kpd Allah, akan Allah jadikan baginya jalan keluar, dan Ia akan memberinya rizki dari arah yg tak disangka-sangka.”

    Semoga Allah menjaga kita dan anak cucu kita kaum muslimin dari riba dan dari segala kedustaan dan kezhaliman dalam harta. Aamiin.

  5. maradi says:

    Tulisan yang bagus Mbak Arini.
    Alhamdulillah, Saya sudah bebas riba dari setahun yang lalu, dan sekarang kalau ingin membeli sesuatu harus dengan tunai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s