Kilas Balik 2013 dan Resolusi Hidup 2014

Sebenarnya saya bukan tipe orang yang rajin bikin resolusi tahun baru di setiap awal tahun, karena biasanya saya hanya menganggap tahun baru hanyalah sekedar tahun berganti aja dan biarlah hidup mengalir sepanjang tahun tersebut. Tapi setelah saya pikir-pikir, dalam hidup ini sepertinya kita harus punya target apa yang akan dicapai sehingga kita jadi lebih semangat dan termotivasi dalam menjalani hari-hari ke depan. Dan rasanya tahun baru Masehi ini merupakan momen yang tepat untuk merancang rencana-rencana tersebut, karena perhitungan tanggalannya sangat umum jadi saya lebih gampang untuk mengukurnya (beda dengan tahun baru Hijriyah yang sejujurnya saya nggak tahu pasti itu kapan kalau tidak saya lihat tanggal merahnya di kalender, hehe 🙂 ).

Sebelum membahas tentang resolusi tahun depan, saya ingin kilas balik dulu apa-apa saja yang sudah saya dan suami lakukan ataupun yang sudah kami capai selama tahun 2013 ini :

1. Kesempatan mengunjungi orang tua saya di Kuwait bersama suami.

Orang tua saya berkeinginan kalau seluruh anak, mantu, dan cucu harus sudah berkunjung ke sana sebelum Papa saya pensiun. Kalau saya sendiri termasuk cukup sering ke sana karena saya sebenarnya punya permanent residency visa, tapi tetap aja kalau sudah menikah rasanya hampa ya kalau pergi sendiri, walaupun itu hanya sekedar untuk “datang-ngecap paspor-pulang aja”, hehe. Alhamdulillah akhirnya kami berdua baru dapat kesempatan ke sana bersama-sama di bulan Maret kemarin. Namanya juga perjalanan kami ini disponsori penuh oleh orang tua saya, jadi kami harus nunggu sinyal dulu kapan bisa bawa badan ke sana, hehehe. Ya iyalah, kalau kami pergi pake tabungan sendiri sih lebih baik kami nggak berangkat, soalnya lebih baik kami nabung buat tujuan hidup ke depannya (dibaca : sebenarnya sih karena nggak ada dananya juga kalau pake uang sendiri 😆 ). Mungkin ini akan menjadi pertama dan terakhir kalinya kami berdua bersama-sama ke sana karena awal tahun depan masa berlaku PR saya sudah habis dan saya udah nggak gitu minat memperpanjang lagi. Saya rasa itu aja udah cukup kok, masih banyak belahan bumi lain yang masih perlu dijelajahi, hehehe.

Kuwait

Katanya sih belum sah ke Kuwait kalau belum berfoto di Kuwait Towers

2. Pindah kontrakan.

Beberapa hari sebelum puasa alhamdulillah kami bisa pindah ke rumah kontrakan baru yang jauh lebih layak huni. Sebenarnya masa kontrakan di rumah yang lama masih ada sekitar 2,5 tahun lagi (karena suami dulu terpaksa harus bayar langsung 5 tahun karena suatu alasan yang malas kalau diingat-ingat lagi, moga berkah aja deh uangnya buat yang ngontrakin), tapi kalau kami tetap tinggal di sana dengan kondisi seperti itu rasanya kualitas hidup kami jadi nggak bagus banget. Untungnya kami menemukan orang asli sekitar sana yang mau ngelanjutin kontrak di rumah tersebut walaupun dengan biaya yang sangat murah, jauh dari yang kami bayarkan. Tapi nggak apa juga sih, kami anggap aja itu sebagai bentuk membantu dan meringankan beban orang lain.

3. Membeli tanah untuk bangunan rumah kelak.

Sebenarnya ada banyak keuntungan kalau kita tinggal di daerah, karena harga tanah masih muraaaaah banget, udah gitu belinya bisa dicicil tanpa bunga lagi! Emang kalau kita udah niat untuk ngehindarin riba pasti ada aja jalannya ya. Tapi emang harus hati-hati juga kalau beli tanah di sini. Surat harus ada, paling minimal Surat Keterangan Tanah (SKT) yang ditandatangani Camat, lebih bagus lagi kalau langsung disertifikatkan. Tapiii, namanya juga di daerah masih jarang tanah itu udah bersertifikat, ada SKT aja udah bagus, hehehe. Selain itu kalau tanah tersebut tanah warisan maka harus jelas-jelas ada surat dari ahli waris. Kalau nggak gitu sering banget di sini kejadian tanah udah dijual sama salah satu ahli waris dan dibeli orang lain, eh tiba-tiba ahli waris yang lain masih menganggap itu tanah keluarganya, dan dijual ke orang yang lain pula. 😯

Sayangnya kami agak teledor (lagi) nih, karena terlalu percaya sama si penjual (yang kami anggap udah orang dekat). Cukup panjang juga ceritanya, intinya tanah yang kami beli itu memang belum ada akses jalannya dan dijanjikan bakal segera mulai dibuat kalau dana desa sudah ada. Tapiii, ternyata sampai sekarang masih belum ada kejelasan soal jalan tersebut, eh ujug-ujug kalau kita mau cepat ada jalannya ya kita sendiri yang disuruh buat jalannya ❓ Emangnya buat jalan murah apa??? Aaah sudahlah kalau diingat-ingat lagi jadi malas, moga berkah aja uangnya sama si penjual. Kami jadi heran sendiri, apa kami terlalu baik atau terlalu bodoh ya sampai berkali-kali dipermainkan sama orang yang udah kami anggap dekat. Tapi mungkin itulah cara Allah SWT mengatur agar kami bisa mengenal siapa orang-orang yang bisa dipercaya dan siapa yang tidak.

4. Masuk Majalah Dental&Dental.

Ini merupakan penutup tahun yang sangat manis bagi saya karena kisah PTT saya ditampilin di Majalah Dental&Dental edisi Nov-Des 2013 dalam rubrik Inspire loh (halaman 30). Majalah ini termasuk majalah kedokteran gigi populer di Indonesia, dan bisa tampil di dalamnya jelas merupakan kebanggaan bagi saya, walaupun awalnya saya nggak pede banget loh saat diminta menulis tentang kisah saya ini, soalnya saya mikir kayaknya kisah saya belum ada apa-apanya deh dibandingkan drg-drg lain di daerah yang lebih terpencil sana. Tapi saya pikir-pikir lagi saya pengen punya kenangan untuk keluarga saya kelak, jadi saya beranikan diri untuk menulis pengalaman saya untuk majalah ini.

Ngerasa familiar nggak dengan isinya? Yup, sebenarnya ini emang versi singkat dari yang pernah saya posting di blog kok.

5. Di penghujung tahun suami membuat gebrakan dengan memulai usaha baru, beternak kambing dan berkebun jahe gajah.

Saya pun nggak pernah menyangka suami kepikiran untuk merintis usaha di kedua bidang ini, karena sebelum-sebelumnya dia lebih sering ngebahas binatang dan tanaman yang lain sih. Tapi apapun bidang yang ia pilih sebagai istri pasti saya akan selalu dukung.

Aku makan dulu yaaa…

6. Memulai food combining

Awalnya sih gara-gara pengen kembali punya perut langsing kayak dulu lagi (sekarang udah berlemi-lemi kalo bahasa sahabat saya 😆 ), saya jadi bersemangat mau merubah pola makan ke arah yang lebih sehat. Sempat hampir mau mempraktekkan OCD, tapi setelah dibaca-baca lagi kok rasanya kurang cocok di saya ya. Eh nggak sengaja ketemu pembahasan tentang FC ini, dan setelah saya baca-baca rasanya rasional juga. Berbekal ngubek-ngubek twitter-nya @erikarlebang dan baca blognya juga, akhirnya saya mantapkan untuk langsung memulai FC. Saat saya utarakan keinginan ini ke suami (maksudnya biar dia nggak bingung kalau ngelihat kok pola makan saya jadi berubah), eh ternyata dia malah mau ikutan juga. Nah, seminggu pertama kami melakukan FC ini emang berasa banget dampak positifnya loh, badan terasa lebih bugar dan tidur juga lebih nyenyak. Tapi kami langsung patah arang gara-gara dalam seminggu itu kami mencr*t melulu, saya ngerasa kayaknya jutlak yang kami lakukan ada yang salah nih. Baru saya tahu setelah membaca buku Andang W. Gunawan kalau cara mencuci sayur dan buah saya masih salah, berhubung sayurnya dimakan mentah ya pantesan aja kami berdua jadi mencr*t. Akhirnya setelah itu kami berdua kembali mulai melakukan FC lagi, walau lebih banyak cheating-nya daripada konsistennya. 😆

Nah setelah kilas balik perjalanan saya dan suami sepanjang tahun ini, kini saatnya merancang resolusi hidup untuk tahun 2014 mendatang :

1. Jadi istri dan wanita sholehah.

Saya ingiiin banget benar-benar berkomitmen untuk jadi istri sholehah, yang selalu mendampingi suami saya di manapun ia berada. Sebenarnya kedengarannya simpel ya, tapi jujur bagi saya ini sangat berat loh menjalaninya. Kalau nggak benar-benar mengharap ridha Allah SWT, saya sering nggak kuat loh tinggal di daerah ini (dan kemudian mengeluh ke suami kalau pengen pindah aja rasanya). Sudahlah minim hiburan, tipikal masyarakatnya juga berbeda dengan masyarakat perkotaan (sekepo-keponya orang kota ternyata masih lebih kepo lagi orang desa loh 🙄 ), dan sangat sedikit yang ‘klik’ untuk diajak ngobrol setiap kami ingin mendapat pencerahan spiritual (kebanyakan orang di sini ya sekedar beragama Islam aja tanpa benar-benar mengerti kewajibannya). Tapi gimanapun di sinilah tempat kami mencari nafkah, apalagi kami berdua cuma satu-satunya dokter gigi se-kabupaten ini jadi Insya Allah rezeki lebih sering datang sendiri. Kalau kami di kota juga belum tentu punya pasien tetap karena harus bersaing dengan yang senior-senior yang udah punya nama duluan.

2. Berhijab dengan sebenar-benar hijab.

Ini juga sulit banget ternyata, karena saya udah dari dulu cuma ngomong pengen pengen pengen tapi nggak dikerjakan dengan 100%. Walaupun sekarang saya udah mulai rajin pakai gamis, tapi masih belum pake kaos kaki, kerudungnya juga masih belum nutup dada, dan kalau perjalanan jauh bisa dipastikan saya bakal kembali mengenakan pakaian standar saya karena gamis-gamis saya kebanyakan lebih cocok untuk dipake di seputaran daerah ini aja. Habisnya yang saya punya saat ini rada nggak banget gitu sih modelnya. Maklumlah, di Indonesia ini kan tidak bisa dipungkiri kalau semuanya dilihat dari penampilan, apalagi terutama kalau di kota besar ya, jadi berpenampilan modis itu harus kalau lagi jalan-jalan, hehehe. Sebenarnya mau beli rada banyakan gamis baru yang cukup modis, tapi pas lagi cuci mata baru nyadar kalau harga gamis itu muahalll juga ternyata yaaa. Tapi udah diniatkan sih mau coba dicicil satu persatu aja belinya. Terkumpul sepuluh gamis aja udah bagus banget untuk variasi pemakaian kalau pas lagi jalan-jalan. Kalau lagi di sini sih ngapain dandan cakep-cakep pake baju bagus, toh cuma seputaran rumah-pasar aja. 😆

3. Mendapat keturunan.

Semogaaa tahun depan Allah SWT akhirnya mempercayakan kami untuk memiliki keturunan. Berhubung ini benar-benar hak prerogatif Allah SWT, kami berdua hanya bisa berikhtiar, berdoa, dan berharap saja, walaupun kayaknya yang kami lakukan rasanya masih belum maksimal deh.

4. Sekolah lagi.

Sekolah lagi merupakan kewajiban saya ke Papa yang harus saya tunaikan, karena sebelum menikah saya sudah berjanji akan sekolah lagi dan sebenarnya syarat saya dan suami boleh menikah ya karena Papa saya sudah memastikan kalau saya tidak akan dilarang untuk sekolah lagi oleh suami saya kelak 😆 Nah awalnya kan dari dulu itu saya ingin banget jadi drg Sp.KG, tapi tiba-tiba di penghujung tahun keinginan itu menguap karena saya udah nggak tertarik lagi praktek. Saya tiba-tiba menyadari kalau profesi ini di masa yang akan datang sepertinya bukan pekerjaan yang membuat saya membuka mata di pagi hari dengan semangat. Lagian selama di praktek itu saya malah lebih antusias ngurusin hal-hal yang kayaknya lebih ke arah administratif deh dibandingkan mengerjakan pasien itu sendiri 😳  Jadi, setelah saya pikir-pikir lagi dan berdiskusi dengan suami, akhirnya saya memutuskan untuk banting stir nyoba ujian masuk Manajemen Rumah Sakit aja tahun depan. Selain itu, kalau S2 kan waktunya lebih singkat daripada ambil spesialis, jadi nggak lama juga ninggalin suami sendirian dan biayanya juga jatuhnya jauh lebih murah. Targetnya bukan untuk jadi direktur RS kok, minimal kalau kelak saya punya klinik sendiri saya sudah punya ilmu untuk mengelolanya. Dan perlu dipertegas, bukan saya yang jadi dokter pekerjanya ya, tapi saya bakal jadi pemiliknya aja. 😆 Moga-moga saya bisa lulus ujian masuknya ya..

5. Konsisten menjalankan food combining tanpa cheating.

Melaksanakan jutlak FC dengan sebaik-baiknya itu sebenarnya nggak ribet, tapi kadang emang suka berasa ada yang kurang lengkap kalau makan lauk dan sayur doang nggak pake nasi 😆 Selain itu, kami masih suka makan malam di atas jam 9 malam nih, gara-gara pas lagi di praktek kami sering nunda makan sampai pasien habis. Berhubung saya rencana nggak ikutan praktek lagi, jadi ke depannya saya bisa menyiapkan makan malam untuk suami biar dia bisa langsung makan pas setelah sholat maghrib.

6. Segera mendaftar haji.

Kami bertekad kalau tahun depan ada uang yang terkumpul prioritas utama kami adalah daftar haji! Kami termotivasi dari salah satu teman yang sudah kami anggap saudara di sini yang naik haji di usia muda (kalau nggak salah usia si Uda dan si Uni ini masih 30-an). Denger cerita mereka saat baru pulang dari haji kemarin waaah rasanya jadi nggak mau menyia-nyiakan waktu juga. Secara sekarang daftar tunggunya lama banget yaaa, kalau nggak dari sekarang diniatkan daftar takutnya ntar jadi lalai.

7. Bangun rumah.

Moga-moga akses jalan untuk tanah rumah itu udah selesai tahun depan ya, jadi kami bisa segera bangun rumah kami walau mungkin masih secara bertahap. Bisa punya rumah sendiri itu rasanya seperti benar-benar impian banget buat saya, soalnya udah hampir 10 tahun juga hidup saya habis di ngekos (pas masih kuliah) dan ngontrak rumah (pas udah nikah). Makanya hal ini membuat saya bener-bener pengeeen banget punya rumah sendiri, yang bisa dengan bebas saya tata sendiri sepuasnya senyaman mungkin, tanpa perlu mikirin kalau suatu saat saya akan pindah rumah lagi.

8. Usaha suami berkembang dengan lancar.

Saya selalu berdoa semoga suami saya dilancarkan dalam setiap urusannya, dibukakan pintu rezekinya seluas-luasnya, dan dihindari dari orang-orang yang berniat tidak baik kepadanya. Berhubung suami bertekad untuk menguasai peternakan kambing di daerah ini ke depannya, semoga praktek suami juga lancar biar bisa ngumpulin modal lebih banyak lagi untuk memperbanyak jumlah kambing. Dan juga jahe gajah yang rencananya ditanam di awal tahun depan sudah bisa lancar dipanen di pertengahan tahun. Walaupun pilihan hidup suami saya tidak seumum teman-teman kami sesama dokter gigi lainnya (anti-mainstream banget emang dia orangnya 😎 ), tapi semoga dia kelak bisa benar-benar menjadi seorang dentistpreneur, seperti yang selama ini diimpikannya. Manatau aja bisa jadi the next Chairul Tanjung di masa depan kan. Aamiin.. :mrgreen:

اَللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma rahmataka arjuu falaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin, wa ashlihlii sya’nii kullahu, laa ilaha illa anta.

Ya Allah, aku mengharapkan (mendapat) rahmat-Mu. Oleh karena itu, jangan Engkau biarkan diriku sekejap mata (tanpa pertolongan atau rahmat dari-Mu). Perbaikilah seluruh urusanku, tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”

Selamat menjalani hari-hari di tahun 2014, semoga tahun 2014 ini menjadi tahun yang penuh keberkahan bagi kita semua. Aamiin.. 😉

Advertisements

6 thoughts on “Kilas Balik 2013 dan Resolusi Hidup 2014

  1. Baginda Ratu says:

    Wuaaaahh, udah sampe kuwait ajaaaa….! 🙂
    Kubantu mengamini semua resolusi th 2014nya ya, Rin… Aamiiinnn….! 🙂
    Btw, ttg tanah yg nggak ada jalan, rasa2nya emang susah ya, nemuin orang yang bisa dipercaya ka udah menyangkut duit..

    • arinidm says:

      Makasih bantuan aamiin-nya Mbak Fiiit. Iya aku jg jadi inget cerita Mbak yg juga ditipu pas lg renovasi rumah (eh renov atau pas bangun ya, lupaaa). Yah mungkin itu ujian jg buat kita semua dr Allah SWT ya Mbak, kalau mikirin duitnya terus jg ga bakalan balik, mending kita mikirin pahalanya aja deh krn kita sabar ngadapinnya (skrg udah bisa blg sabar, pdhl pas kejadian ampe pusing tujuh keliling juga tuh kita mikirinnya 😆 )

    • arinidm says:

      Halo Mbak Sindi salam kenal juga, wah blognya Mbak bermanfaat sekali isinya, apalagi kalo ntar saya hamil jg hihihi (aamiin), makasih doanya Mbak, semoga resolusi Mbak tercapai jg yaaa ^^

  2. Felicity says:

    Saya ikut mendoakan semua rencana tahun 2014 bisa terlaksana dan terwujud….aminnnnn…..

    Hmmmm….jadi terinspirasi juga buat food combining…. 🙂

    • arinidm says:

      Makasih bantuan doanya Mbak Felicity ^^ Ayooo Mbak dicoba, saya sebenernya juga masih newbie kok di bidang per-food combining-an, tapi baca-baca testimoni yang udah konsisten kok pada positif semua ya, jadi makin semangat jalaninnya, moga-moga bisa ikutan sehat juga ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s