Belajar Menjadi Diri-Sendiri

Saya lahir, besar, dan sekolah di lingkungan suatu perusahaan asing di tempat Papa saya bekerja di Riau, sehingga membuat saya bergaul dengan teman-teman yang itu-itu saja dari lahir sampai lulus SMA. Akibatnya, anak-anak sesama pegawai ini biasanya mencoba memiliki gaya hidup yang seragam. Kalau ada satu orang yang punya sesuatu, pasti nanti yang lain akhirnya pada ikut-ikutan punya juga. Biasanya sih yang menjadi trendsetter itu anak-anak yang populer, dan follower-nya adalah anak-anak yang berharap bisa jadi anak populer juga, contohnya saya, hahaha. Maklumlah, namanya juga remaja labil yang masih mencari jati diri dan butuh pengakuan akan eksistensi dirinya. :mrgreen:

Saya jadi ingat waktu zaman SMP dulu ada masa di mana hampir semua anak di sekolah saya menggunakan tas merk Jansport. Saya yang juga pengen ikutan eksis akhirnya jadi merengek ke orang tua saya minta dibelikan tas yang sama. Saya berpikir, orang tua teman saya aja bisa belikan teman saya, kenapa orang tua saya nggak bisa, padahal kan gaji orang tua kami nggak jauh beda. Akhirnya orang tua saya membelikan juga tas yang saya inginkan itu, walaupun harganya nggak tanggung-tanggung loh, saya sudah lupa juga sih berapa tapi kalau nggak salah hampir 300 ribu rupiah! Kalau dipikir-pikir sekarang sebenarnya harga segitu kan kalau di saat itu termasuk mahal ya, apalagi saat itu masih zaman pasca krismon. Mungkin uang segitu lebih baik dialokasikan untuk kebutuhan pokok sehari-hari yang lebih penting dan menjadi prioritas deh. Tapi saya mana peduli, yang saya pedulikan saat itu bahwa saya bisa berangkat ke sekolah dengan percaya diri karena saya sudah termasuk orang yang memakai tas sejuta umat sekolah itu, hahaha. 😆

Kami sekeluarga pernah tinggal di rumah perusahaan, namun orang tua saya memutuskan untuk membeli rumah sendiri, yang artinya kami harus tinggal di luar kompleks perusahaan. Seharusnya saya bangga ya karena orang tua saya akhirnya bisa memiliki rumah pribadi, tapi yang ada saat itu saya malah sempat kesal dengan orang tua saya, karena saya inginnya ya seperti teman-teman saya yang masih tinggal di dalam kompleks. Saya pengen bisa nonton tv kabel juga biar nyambung kalau ada yang ngetren yang lagi dibicarakan teman-teman di sekolah (di rumah walau pakai parabola tapi tetap saja hanya acara tertentu yang tertangkap dan bisa ditonton), bisa nelpon teman yang sama-sama tinggal di dalam kompleks gratis sepuasnya (sementara telpon di rumah saya dikunci orang tua saya biar bisa dikontrol pemakaiannya), bisa kapan aja kalau mau main-main ke rumah teman (posisi rumah saya yang agak jauh nggak memungkinkan untuk saya ikutan bergaul kapan saja dengan teman-teman saya yang di dalam kompleks), dan nggak akan ngerasain mati lampu atau banjir seperti yang saya alami di rumah saya ini (mana mungkin di rumah perusahaan mati lampu, listrik dan air aja bisa pake sepuasnya, banjir apalagi, mustahil terjadi deh!).

Karena kedua orang tua saya sama-sama bekerja, jadi saya ke mana-mana harus naik motor sendiri, atau kalau terpaksa banget ya mau nggak mau harus naik oplet (angkot). Dan jujur aja, saat itu saya maluuuuu banget kalau harus naik oplet, karena kesannya nggak berkelas banget, sementara teman-teman yang tinggal di dalam kompleks bisa pergi dan pulang sekolah dijemput bus milik perusahaan atau bahkan bawa mobil sendiri. Kalau mobil nggak dipakai sih kadang saya minta dibolehin untuk nyetir sendiri ke sekolah atau pergi les, tapi kalau lagi nggak boleh bawa mobil dan motor karena akan dipakai, saya akhirnya juga jadi sering nebeng teman yang rumahnya dekat dengan saya, walaupun jelas-jelas teman saya menunjukkan raut muka yang sebel ditebengin, tapi saya pasang muka tembok aja, hahaha. 😳

Yah begitulah saya, banyak tingkah konyol yang saya paksakan karena saya sangat begitu ingin eksis di lingkungan saya, karena saya tau di antara teman-teman saya tersebut sebenarnya saya bukanlah siapa-siapa. Walaupun kami selalu bersama sejak kecil tapi yang dikenal pasti orang-orang tertentu saja, terbukti karena tidak semua teman seangkatan saya mengenal saya. Sekuat apapun saya berusaha untuk disukai teman-teman yang saya inginkan ya tetap saja tidak akan bisa. Walaupun saya mencoba berprestasi (karena saya sempat menjadi Bendahara OSIS saat itu), tapi karena saking inginnya saya disukai, saya malah sering menunjukkan sikap yang tidak tepat, yang akhirnya malah membuat saya jadi tidak disenangi. Akhirnya untuk beberapa orang imej saya cukup tidak bagus saat itu, dan malah ada teman yang begitu membenci saya.

Saya lambat laun menyadari kalau pertemanan itu tidak bisa dipaksakan, dan daripada terlalu ingin disukai orang-orang yang saya harapkan, saya seharusnya lebih baik fokus ke teman-teman yang merasa cocok berteman dengan saya. Alhamdulillah, saya bisa menemukan sahabat-sahabat dekat saya sendiri kemudian.

Dan akhirnya saya sampai pada suatu titik di mana saya tahu kalau saya hanya ingin berubah dan memiliki kehidupan sosial yang lebih baik dan sehat. Oleh karena itu, saya harus berubah! Saya harus menjadi pribadi yang lebih baik. Dan yang paling penting, saya harus berani menjadi diri saya sendiri.

Ketika akhirnya saya lulus SMU, saya putuskan saya ingin kuliah di tempat yang berbeda dengan teman-teman saya yang lain, di daerah yang bukan jadi pilihan utama teman-teman saya, sehingga saya bisa menjadi diri saya yang baru, menjadi saya yang lebih baik. Itulah kenapa akhirnya saya sangat senang sekali ketika saya lulus SPMB di FKG USU, karena Medan adalah daerah yang sangat jarang menjadi pilihan teman-teman saya. Mereka mayoritas memilih untuk kuliah di Jakarta, Bandung, atau Jogja.

Kalau banyak yang berpendapat masa SMU adalah masa-masa yang paling indah, lain halnya dengan saya. Saya merasa bahwa masa-masa hidup saya yang paling indah adalah masa KULIAH! Saya melihat dunia yang sangat berbeda dengan yang selama ini saya lihat. Saya bertemu, berkenalan, dan mencoba memulai pertemanan dengan orang-orang yang benar-benar baru hadir dalam hidup saya. Saat itulah pertama kalinya saya akhirnya benar-benar melihat keberagaman, sehingga membuat saya benar-benar mencoba memperbaiki diri, belajar mensyukuri apa yang saya punya, dan mencoba untuk hidup lebih sederhana. Saya menjadi pribadi yang tidak gengsian dan tidak menuntut diri untuk tampil berkelas hanya sekedar untuk sebuah pengakuan. Ketika Papa saya menawarkan agar saya membawa mobil ke Medan, saya putuskan untuk membawa sepeda motor saja. Walaupun orang tua saya ingin saya tinggal di kos-kosan yang bagus sekalian, saya memilih kosan yang biasa saja, yang penting tetap membuat saya nyaman. Saya mencoba merasa cukup dengan apa yang sudah saya punya. Ketika orang tua saya pindah bekerja ke Kuwait pun saya hanya menceritakan ke teman-teman saya yang paling dekat saja. Saya bertekad untuk menunjukkan bahwa saya tetap bisa hidup sederhana walaupun sebenarnya mungkin saya mampu untuk mendapatkan yang lebih dari itu, karena saya memang hanya ingin menjadi orang yang terlihat biasa saja. Saya hanya ingin menjadi diri saya sendiri sesuai dengan cara yang saya pilih.

Saya sangat bersyukur, berkat menjadi diri saya sendiri, di Medan lah akhirnya saya benar-benar menemukan sahabat sejati saya, yang alhamdulillah walau sering berantem tapi kami tetap saling menerima dan saling mengerti satu sama lain apa adanya, dan walaupun kini kami saling berjauhan satu sama lain tapi Insya Allah kami masih tetap saling memiliki satu sama lainnya. 🙂

Jujur, saya sebenarnya nggak pengen lagi mengingat-ingat zaman-zaman saat saya sekolah dulu, zaman yang menurut saya merupakan zaman kekelaman saya. Setiap saya mengingat saya yang dulu, saya sering tidak habis pikir kenapa saya melakukan hal-hal konyol seperti dulu itu ya? Tapi saya tahu itulah pembelajaran dalam hidup, kalau Allah SWT tidak membuat saya menjadi pribadi saya yang dulu, saya di zaman kini bisa-bisa menjadi pribadi yang sangat menyebalkan, menyedihkan, dan nggak punya identitas diri. Dan itu pasti akan mempengaruhi diri saya yang di masa depan.

Saat ini bisa dibilang saya sudah lama tidak bertemu lagi dengan teman-teman sekolah saya, bahkan dengan yang paling akrab sekalipun, karena domisili saya yang cukup jauh ini (dan bukan pilihan mainstream untuk dijadikan tempat tinggal juga sih, hehehe). Tapi saya salah juga karena saking tidak inginnya saya mengingat diri saya yang dulu membuat saya malah terlalu menarik diri dari teman-teman sekolah saya, sehingga membuat teman-teman yang dulu mengenal saya mungkin sekarang jadi sudah lupa dengan saya. Akhirnya saya jadi minder sendiri kalau ada ajakan acara reuni sekolah, walaupun saya juga belum tentu bisa datang sih, tapi saya sudah takut duluan kalau nanti banyak yang sudah tidak mengenal saya lagi. Tapi alhamdulillah, masih ada beberapa teman sekolah yang saya jaga untuk tetap berhubungan, baik melalui facebook, twitter, instagram, maupun BB, dan saya sangat senang bisa menjaga hubungan baik ini. Saya sebenarnya yakin kalau kami semua Insya Allah pasti sudah jauh berbeda dibanding dengan saat masih zaman sekolah dulu, Insya Allah pasti semua sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, bahkan jauh lebih baik. Semoga suatu saat nanti akan tiba masanya kami semua dapat berjumpa kembali, dan menjalin silaturahim yang jauh lebih hangat dari sebelumnya. 😉

Advertisements

6 thoughts on “Belajar Menjadi Diri-Sendiri

  1. Felicity says:

    Sama dong, buat saya masa kuliah dan bisa mandiri adalah masa paling bahagia….Bangga bisa masak sendiri biarpun ancur2xan rasanya, cuci baju sendiri meski nggak 100% kinclong dll. Yang paling penting karena ini adalah masa2x bisa menemukan jati diri sendiri dan nggak ikut2xan orang lain supaya eksis 😀

    • arinidm says:

      Iyaaa Mbak, rasanya bahagia bener ya bisa jadi diri-sendiri seutuhnya, karena pas kita seperti itulah ternyata kita nemuin sahabat yang sebenernya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s