PTT

Tak terasa dua tahun sudah berlalu dan akhirnya akhir bulan kemarin resmi sudah berakhirnya masa bakti saya sebagai dokter gigi PTT di salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu ini. Btw, PTT itu adalah singkatan dari Pegawai Tidak Tetap, yang merupakan salah satu program Kemenkes untuk penyebaran dan pemerataan tenaga kesehatan, seperti dokter, dokter gigi, dan bidan, untuk ditempatkan di daerah biasa, terpencil, sangat terpencil, maupun DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan, dan Kepulauan) di seluruh wilayah Indonesia, kecuali Pulau Jawa dan Bali. Untuk daerah biasa masa bakti yang wajib dijalani adalah 3 tahun, sedangkan daerah lainnya dahulu masa baktinya 1 tahun dan boleh diperpanjang tanpa batas waktu, namun kini peraturan terbaru mengubah masa bakti menjadi 2 tahun dan hanya bisa memperpanjang satu kali saja (total masa bakti 4 tahun). Di tahun pertama PTT kita tidak boleh mengambil cuti, dan bagi wanita juga tidak boleh dalam keadaan hamil.

Untuk mendaftar menjadi dokter PTT prosedurnya sebenarnya cukup gampang. Kalau sudah ada pengumuman pembukaan lowongan di website Kemenkes, lihat dulu alokasi formasi/daerahnya. Jika sudah mantap memilih daerah, baru daftar secara online sambil memasukkan daerah mana yang akan kita tuju dan kriterianya (biasa/terpencil/sangat terpencil) sesuai dengan alokasi formasi yang dibuka. Kita boleh memilih dua daerah, tapi hanya boleh memilih satu saja daerah yang berkriteria sangat terpencil, sementara kalau mau memilih dua-duanya daerah biasa atau terpencil boleh saja. Ada juga pilihan ketiga yang boleh dipilih jika kita bersedia ditempatkan di mana saja, tidak terpaku pada dua daerah yang kita pilih. Setelah selesai mendaftar, barulah kita kirim berkas sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan (hanya bisa dikirim melalui kantor pos, tapi kalau mau antar sendiri ke kantor Kemenkes setahu saya juga boleh). Berkas yang sudah diterima akan diumumkan melalui website Kemenkes, jadi kalau nama kita sudah terpampang di website artinya kita tinggal menunggu saja pengumumannya. As simple as that.

Tapi walaupun sesederhana itu, tetap saja belum tentu kita diterima loh. Saya pernah membaca pengalaman beberapa TS (Teman Sejawat) dokter umum yang sudah beberapa kali mendaftar, bahkan sudah memilih di pilihan ketiga yang bersedia ditempatkan di mana saja, tapi tetap saja tidak lulus. Sepertinya persaingannya cukup ketat karena jumlah dokter yang mendaftar dengan kuota yang diterima tidak sebanding. Tapi kadang aneh juga sih, ada daerah yang dibuka namun setelah pengumuman malah tidak terisi, sementara yang memilih bersedia ditempatkan di mana saja juga tidak lulus. Tapi saya juga tidak mengerti sih bagaimana penilaian penerimaannya, biarlah hanya Biro Kepegawaian Kemenkes saja yang tahu, hehehe. Dan masalah lainnya, belum tentu juga daerah yang kita inginkan membuka lowongan. Bagi dokter perempuan yang mengikuti suami bekerja hal ini bisa menjadi kendala, karena hanya bisa memilih daerah di tempat yang sama atau terdekat dengan lokasi suami berada. Nah kalau yang bidan, persyaratannya cukup berbeda dengan dokter karena khusus bidan saat mendaftar harus ada rekomendasi dari Dinas Kesehatan daerah yang dituju. Dengan jumlah bidan yang kini sangat banyak, sementara jumlah kuota terbatas, dan harus ada rekomendasi Dinas Kesehatan terkait pula, persaingannya pastinya sangat ketat sekali.

Alhamdulillah, saya termasuk beruntung karena saat saya berencana mendaftar ternyata lowongan dokter gigi di daerah tempat suami saya bekerja ini dibuka, pas-pasan hanya satu kuota pula (btw semenjak setelah saya mendaftar di tahun 2011 hingga sampai saat ini menjelang akhir tahun 2013 tidak ada lagi dibuka kuota dokter gigi untuk daerah ini loh, padahal daerah ini sangat sangat sangat kekurangan dokter gigi!). Saya saat itu hanya perlu sekali mendaftar dan alhamdulillah langsung lulus pula, tapi setelah dipikir-pikir saya bisa lulus karena emang sepertinya tidak ada yang minat di daerah ini deh kecuali saya, hehehe. Dan ternyata saya ditempatkan di Puskesmas yang dekat dengan rumah pula! Eh tapi nggak heran juga sih, soalnya saat itu saya dan suami emang masih tinggal di dusun sih, jadi jelas lah tempat kerja saya emang jadi dekat dengan rumah kontrakan. :mrgreen:

Dulu PTT ini pernah diwajibkan bagi para dokter/dokter gigi yang baru lulus, tapi sekarang sih sudah tidak lagi. Tapi kalau saran saya sih, walaupun tidak wajib lagi, ada baiknya kita ikuti saja program ini. Banyak pengalaman tak disangka yang bisa kita dapatkan kalau kita bekerja di fasilitas kesehatan Pemerintah daerah yang kadang tidak akan kita temui kalau kita bekerja di sektor swasta. Dan banyak yang pernah PTT berpendapat kalau PTT ini menambah softskill loh, dan saya sangat setuju dengan pendapat ini.

Seperti pengalaman saya, saya awalnya ditempatkan di Puskesmas yang sama sekali tidak ada kursi gigi, tidak ada satupun alat kedokteran gigi, bahkan tidak ada yang namanya ruang poli gigi. Jujur, saya sempat kesal saat saya disuruh bawa alat sendiri, karena harusnya kan Pemerintah daerah yang menyediakan alat, sedangkan saya yang menyediakan tenaganya. Walaupun sebenarnya kegiatan utama Puskesmas itu harusnya menitikberatkan pada kegiatan promotif dan preventif, jadi kalaupun tidak ada alat ya saya harusnya fokus di kedua kegiatan itu saja, tapi kenyataannya masyarakat maunya bukan sekedar penyuluhan dan pencegahan, mereka maunya ya pengobatan (kegiatan kuratif) dong.

Singkat cerita, karena kekurangan tenaga dokter gigi di daerah ini (sekabupaten hanya saya dan suami saja dokter gigi yang tersisa), akhirnya saya kemudian ditempatkan di tiga Puskesmas yang berbeda dengan jadwal jaga tiap dua hari per Puskesmas, sementara suami di RSUD. Tapi tetap saja dari tiga Puskesmas hanya satu yang punya fasilitas memadai, yang ada ruangan poli gigi, kursi gigi, dan juga peralatannya walau menurut saya tetap masih terbatas, hanya sekedar untuk pencabutan dan pembersihan karang gigi saja. Tapi hikmahnya, saya jadi belajar mengerjakan kasus dengan alat-alat seadanya itu. Terkadang saya juga dihadapkan pada situasi yang membuat saya kesal sendiri. Kalau saja alat dan bahan lengkap, pasti saya lebih optimal mengerjakan setiap pasien yang datang. Ada juga keadaan di mana saya menjadi sangaaaaat badmood gara-gara tidak ada handschoen (sarung tangan) yang tersisa, tapi tetap ada pasien yang harus dilayani, padahal handschoen dan masker adalah proteksi wajib dan saya kan harus memproteksi diri saya sendiri juga.

Saya juga belajar menghadapi berbagai macam tipe pasien yang berbeda. Kadang pasien tidak mau menerima penjelasan yang kita utarakan walaupun itu untuk kebaikan mereka sendiri. Misalnya mereka tetap ngotot memaksa kita mencabut gigi mereka di saat tekanan darah sedang tinggi, padahal sudah dijelaskan dapat terjadi resiko perdarahan. Tapi saat disarankan untuk dirujuk ke dokter umum untuk kontrol tekanan darah agar kelak bisa dilakukan pencabutan malah nggak mau. Atau ngotot memaksa kita mencabut gigi mereka yang cuma sedikit bolong, padahal masih bisa dilakukan penambalan sehingga gigi masih bisa dipertahankan, walaupun nambalnya harus ke praktek pribadi sih, karena di Puskesmas nggak ada alat dan bahan nambalnya juga. Tapi apa salahnya mengeluarkan uang lebih untuk mempertahankan gigi, menurut saya gigi itu termasuk investasi loh. Orang berduit saja rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk membuat gigi palsu, tapi orang yang punya gigi dan masih bisa dipertahankan malah gampang saja membuang giginya ya. Dan kadang alasan pasien mencabut gigi bukan sekedar masalah biaya, tapi pasien hanya nggak mau ribet aja ngalamin sakit gigi berulang-ulang. Mereka pikir dengan mencabut gigi ya masalah sakit gigi akan selesai, padahal kadang sakit yang dimaksud cuma sekedar ngilu yang bisa diatasi dengan penambalan.

Kesabaran saya juga dilatih. Selain harus menjelaskan segala sesuatu dengan sabar sampai pasien benar-benar mengerti apa yang saya maksud, saya juga belajar sabar dan tenang menghadapi pasien yang marah-marah. Bicara soal marah-marah, saya jadi teringat satu kejadian ketika pernah ada orang tua pasien yang marah gara-gara saya meminta anaknya untuk melepas alas kaki saat masuk ruangan poli gigi, padahal saya ngomongnya juga secara baik-baik. Si Bapak marah-marah pake bawa-bawa nama Pancasila dan persamaan hak segala loh, hehehe. Padahal memang kebijakan di Puskesmas kalau setiap pasien masuk ruangan agar melepas alas kaki, karena tujuannya kan baik, selain untuk menjaga kebersihan juga termasuk sebagai kontrol infeksi. Karena Puskesmas kan nggak seperti Rumah Sakit swasta yang setiap saat ada pekerja yang siaga mengepel lantai dengan desinfektan. Tapi walau udah dimarahin gitu saya sih mencoba nggak masukin hati, saya tetap layani anaknya seperti tidak terjadi apa-apa.

Berkonflik dengan rekan kerja termasuk salah satu yang pernah saya alami. Memang sih, mau kerja di manapun yang namanya berselisih paham dengan rekan kerja pasti akan terjadi. Tapi yang saya rasakan agak berbeda karena saya dan rekan perawat gigi pernah salah paham gara-gara hal sensitif, cukup sensitif di dunia kedokteran gigi. Awalnya karena bagian pendaftaran sering mengarahkan pasien untuk datang berobat di hari jaga saya, karena memang pasiennya sendiri yang bertanya apa ada dokter (gigi) atau tidak. Dan jika pasien datang di hari jaga saya dan perlu kunjungan kembali, maka saya sarankan untuk datang di hari jaga saya kembali, karena saya berpikir pasien ini tanggung jawab saya dan nggak etis rasanya jika saya alihkan ke orang lain. Ternyata hal ini membuat rekan perawat gigi sempat tersinggung, dan membuat mereka protes ke Kepala Puskesmas karena dianggap sebagai tukang cuci alat dokter saja, padahal saya sama sekali tidak pernah menyinggung hal itu dan tidak pernah pula bermaksud seperti itu. Selama ini saya tidak pernah mencuci sendiri alat yang saya pakai karena memang setahu saya kontrol infeksi adalah salah satu tugas perawat gigi, tapi semenjak kejadian itu saya usahakan saya bersihkan sendiri alat yang sudah saya gunakan, dan saya tidak masalah sama sekali kok melakukannya. Yang paling penting bagi saya hati ini tenang tanpa perlu berkonflik dengan orang lain. Tapi alhamdulillah konflik kami cuma sebatas itu saja kok, setelah itu kami tetap akrab sampai akhir masa tugas saya. Malah saya banyak belajar dari rekan perawat gigi saya, karena pengalamannya di dunia pergigian jauh lebih banyak dari saya. 😀

Saya (tengah) beserta rekan perawat gigi di poli gigi salah satu Puskesmas tempat saya bertugas.

Yang lucu kalau di daerah itu, kalau ada satu yang sakit, yang heboh ngantar ke Puskesmas bisa sedusun loh! Kadang yang ngantar bukan keluarga pasien, cuma sekedar orang yang pengen tahu aja. Apalagi kalau kasusnya kecelakaan, pembacokan, meninggal akibat disambar petir, atau bunuh diri, bisa heboh sekabupaten itu. Saking ramenya kadang orang yang datang bisa penuuuuuh sampai di luar Puskesmas, bahkan sampai ke jalan! Dan ini mengganggu sekali, nggak cuma bagi para petugas yang jadi kehilangan konsentrasi karena ributnya, pasien yang sedang dirawat kan terganggu juga. Kayaknya di daerah nggak akan bisa berlaku yang namanya jam besuk deh, hehehe. :mrgreen:

Tapi kalau jadi dokter PTT siap-siap aja gaji kita ditanyain berapa dan dibanding-bandingkan dengan gaji para PNS daerah, lalu dibanding-bandingkan dengan beban kerjanya, secara gaji PTT emang lebih besar dari standar gaji PNS karena ada insentif dari Kemenkes. Saya paling nggak suka kalau ada yang bilang, “Saya sudah bertahun-tahun ngabdi sebagai PNS tapi gaji kalian lebih besar dari saya.” Padahal yang gaji kami kan Kemenkes langsung bukan dari anggaran Pemerintah daerah setempat, jadi ya kalau protes masalah gaji jangan sama kami dong, protes langsung sama Bupati dan DPRD kenapa nggak menganggarkan insentif daerah juga. 🙄

Saat saya memutuskan tidak memperpanjang PTT banyak teman-teman yang bertanya kepada saya kenapa dan banyak juga yang menyayangkan karena melepas gaji yang lumayan itu begitu saja. Apalagi untuk mendaftar lagi belum tentu lulus. Tapi inilah keputusan yang sudah saya ambil, karena saya harus fokus dengan tujuan saya mendaftar sekolah tahun depan. Dan saya butuh Surat Masa Bakti untuk mendaftar kelak. Sebenarnya bisa saja saya mendaftar saat sedang PTT, tapi pastinya saya harus banyak izin untuk ujian, dan juga kalau ternyata lulus sepertinya agak ribet mengurus segala persyaratan pengunduran diri dari PTT ini. Nah mungkin kalau saya tidak berhasil lulus ujian masuk baru deh saya pikirkan untuk mendaftar PTT lagi, hehehe.

Berfoto dengan pimpinan dan staf salah satu Puskesmas tempat saya bertugas, saya yang duduk memakai baju kotak-kotak.

Jumat Bersih, saatnya membersihkan dan merapikan penampilan Puskesmas.

Jumat Bersih, saatnya mempercantik penampilan Puskesmas.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

4 thoughts on “PTT

  1. n1ngtyas says:

    wah baru tahu kalau sekarang PTT sudah tidak wajib lagi. sejak kapan ya ketentuan itu?
    btw memang ya di dunia kerja ada saja warna warninya, yang cerah maupun yang kelam, hahahaha

    • arinidm says:

      Kayaknya udah lama nggak wajibnya Mbak Putri, tapi Pemerintah sekarang punya program wajib baru namanya Internship (magang) yang kalau dilihat-lihat isinya sama aja sih sama PTT, hehehe. Iya Mbak yang namanya dunia kerja mau kerjanya apapun sama aja ya suka dukanya 😀

  2. tania says:

    Hayy dokk salam knall.sy jg doktergiigi .tpii msi pemula dokk bru selse agustus kmren alhamdulilaah
    Kisah dr sangat inspiratif skli.sy jd ingin chitchay n shariing dgn dokter hehee
    Bolee mnt email or line or bbm dokk tnkssb4

    • arinidm says:

      Halooo salam kenal juga Tania. Aduh jd malu diajak sharing, secara sayanya skrg ga praktek hehe. Nggak usah panggil dok ah panggil mbak aja. E-mail saya arinidm(at)yahoo(dot)com ntar via e-mail aja pin bb nya yaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s