Ketika Keinginan Tak Semuanya Tercapai

Ini adalah salah satu tulisan lama saya di tumblr yang cukup memorable, karena saya tulis kira-kira tiga minggu sebelum pernikahan saya. Btw, tulisan ini sudah saya revisi lagi dari versi aslinya di tumblr, karena tulisan yang dulu agak kurang harmonis bahasa dan alur ceritanya, hehe.

Insya Allah jika semuanya lancar dalam waktu dekat saya akan mengakhiri masa lajang. Tapi tulisan kali ini bukan untuk membahas tentang bagaimana menyiapkan segala tetek-bengek persiapan pernikahan. Saya hanya ingin berbagi satu pemikiran yang kemudian muncul dari segala persiapan ini.

Ternyata saya baru sadar bahwa ada beberapa hal yang sudah saya bayangkan dari dulu akan saya lakukan akhirnya malah belum bisa diwujudkan, tapi yang tidak pernah terpikir akan terjadi malah terlaksana begitu saja. Contohnya seperti yang saya alami saat ini. Saya dari dulu nggak pernah terpikir untuk nikah muda, dan saat masih pacaran dulu saya malah bilang ke calon suami kalau saya ingin menikah di umur 27. Eh kenyataannya saya malah dilamar beberapa hari sebelum saya diwisuda menjadi dokter gigi, hehehe. Karena pernikahan rencana diselenggarakan dalam enam bulan ke depan, oleh karena itu saya putuskan untuk tidak praktek dulu untuk sementara waktu dan fokus mengurus segala persiapan pernikahan saja. Saya pikir rasanya ribet aja kalau saya harus ngurus segala perizinan praktek di tempat yang tidak akan saya tinggali secara tetap, kan sebentar lagi saya juga akan pindah mengikuti suami.

Satu sisi, saya sebenarnya sangat sirik dengan teman-teman yang setelah lulus langsung berkarir, baik yang bekerja di rumah sakit atau klinik, bergabung di praktek bersama, maupun yang berani langsung buka praktek sendiri. Sempat saya berpikir, kalo saja saya masih single dan belum berencana menikah dalam waktu dekat ini, mungkin saya sudah magang di mana lah, atau lanjut sekolah lagi lah, atau PTT lah, atau jadi pegawai di mana lah. Terlebih karena mempersiapkan pernikahan ini, saya malah banyak melewatkan segala seminar kedokteran gigi yang ntah kenapa kok marak-maraknya diadain pas saya mau nikah gini sih. Oke, mungkin ada yang akan berpendapat kalau mau ikut seminar ya udah ikut aja kan cuma sehari dua hari doang. Tapi saya kan sadar diri juga, di saat kami sekeluarga sekarang lagi banyak-banyaknya pengeluaran untuk pernikahan, gak mungkin juga kan saya egois ngabisin uang lagi untuk ikut seminar, belum dengan ongkos transportasi dan akomodasi yang jumlahnya pasti bisa sampai jutaan.

Menyesalkah saya kemudian dengan keputusan untuk menikah ini? Sebelum saya menjawab pertanyaan ini, saya kemudian berpikir lagi, dan memang ternyata: “Tidak semua keinginan kita dapat tercapai. Kadang kita memang harus mengorbankan beberapa kesempatan kecil untuk mencapai satu kesempatan besar kita.” Saya memang masih jadi pengangguran, belum praktek, belum bisa ikut seminar, belum bisa lanjut sekolah, belum ikut PTT, belum punya kerjaan tetap, tapi saya kan akan menikah! Dan mungkin saja ada orang lain yang sudah mendapatkan apa yang saya inginkan tapi malah ingin berada di posisi saya yang akan menikah ini. Harusnya saya bersyukur saya masih bisa menikmati masa liburan yang panjang ini, tidak terbebani dengan rutinitas yang mungkin membosankan (walau sebenernya kadang lebih membosankan kalau nggak ada rutinitas kayak saya sekarang ini sih), dan masih bisa berkonsentrasi penuh mengurus pernikahan di saat orang lain mungkin harus membagi waktu antara sibuknya pekerjaan dengan sibuknya mengurus pernikahan. Jadi untuk pertanyaan di atas, tentu saja Insya Allah saya bisa jawab TIDAK! Mungkin untuk masalah karir pergigian sekarang saya sedang ketinggalan, tapi saya yakin kelak saya pasti bisa mengejarnya kembali. Terlebih lagi, bukankah setelah berkeluarga kita jadi lebih tenang dalam melangkah?

Intinya memang benar juga kata pepatah kalau rumput tetangga itu sering terlihat lebih hijau dari rumput sendiri, tapi sekarang semuanya kembali lagi ke diri kita. Dapatkah kita kembali menempatkan diri kita untuk selalu berpikir positif dan selalu mensyukuri apa yang kita jalani? Memang kita harus meraih apapun yang kita inginkan, tapi sekali lagi ada kalanya kita hanya bisa memilih satu kesempatan, dan pilihlah satu kesempatan yang terbaik bagi diri kita.

1 April 2011, 02.13 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s