Kisah Hidup yang Mengawali Segalanya

Saya sangat bersyukur kisah hidup saya dan suami cukup berbeda dari kebanyakan teman-teman kami, bahkan berbeda dari saudara kami sendiri. Mungkin untuk ukuran beberapa orang kisah kami ini biasa saja jika dibandingkan dengan kisah orang lain yang lebih sulit dari kami. Tapi menurut ukuran kami, karena kami sebelumnya tidak pernah sekalipun terpikir akan menjalani kehidupan seperti ini, kami merasa bersyukur bisa kuat melewati perjuangan hidup kami. Dari pengalaman hidup inilah kami bertekad, kehidupan kami di masa depan harus jauh lebih baik.

Semua ini berawal ketika beberapa hari setelah menikah 2,5 tahun yang lalu saya langsung ikut suami tinggal di sebuah daerah yang menurut saya bisa dikatakan cukup terpencil di Provinsi Bengkulu. Saat itu suami hanya bisa mengontrak rumah di desa, sebuah rumah setengah permanen yang setengah berdinding kayu dan setengah berdinding bambu yang dilapis dengan adukan semen, dengan air sumur berwarna coklat. Dengan gaji suami yang saat itu masih pas-pasan (hanya berbekal gaji sebagai pegawai Pemerintah saja), awal-awal kami hanya tidur beralas kasur yang tipis banget yang dilapis lagi dengan bedcover agar lumayan empuk. Untuk makan kami membeli satu nasi bungkus dengan dua lauk, yang dimakan berdua dan dibagi untuk siang dan malam. Miris?? Bangeeeet. Gakan ada yang menyangka kami hidup seperti itu, apalagi kami sebenarnya berasal dari keluarga dengan orang tua berada. Terlebih lagi kalo dibandingkan dengan hidup keluarga saya, dengan orangtua kerja di luar negeri, abang tinggal di apartemen, dan kakak tinggal di perumahan bagus, berkebalikan sekali dengan hidup saya yang pas-pasan di dusun pula. Tapi itu memang sudah tekad kami untuk mandiri, walau awal-awal pake stres dan nangis-nangis juga sih, hehehe.

Perubahan hidup kami dimulai berikutnya. Setelah berkalkulasi, akhirnya kami minta tolong Mama saya untuk mengirimkan perabotan yang tidak terpakai di salah satu rumah orang tua saya. Sangat lumayan loh, dengan ongkos truk seharga 4 juta rupiah kami bisa dapat seperangkat perabotan lengkap dan perintilannya untuk satu rumah kecil beserta satu sepeda motor. Hemat kan, daripada beli baru semua. Semenjak itu saya juga mulai belajar masak, untuk menghemat pengeluaran makan.

Lalu, kami akhirnya memberanikan diri membuka praktek dokter gigi (kami berdua berprofesi sebagai dokter gigi) di suatu ruangan kecil di apotek yang baru didirikan dengan sistem bagi hasil. Walopun kami berdua sama-sama dokter gigi, tapi kami berbagi tugas, suami sebagai operator dan saya sebagai asisten. Modal kami saat itu sederhana banget, kami gunakan satu kursi pijat butut Papa saya yang tidak dipakai yang ikut dikirimkan bersama perabotan lainnya sebelumnya. Kok pake kursi pijat?? Ya iyalah, belum sanggup beli dental unit (kursi gigi) pada saat itu, hehe. Bener-bener primitif banget deh. Untuk buang kumurnya aja kami pake dirigen minyak ukuran besar yang di atasnya dikasih corong! Beberapa peralatan lainnya didapat dari warisan mertua (yang juga dokter gigi) yang terakhir dipakai mungkin belasan tahun yang lalu. Saking primitifnya bentuk praktek kami, kami aja sampe nggak berani pasang tarif tinggi, malu sama pasiennya. Tapiii, alhamdulillah hasilnya lumayan loh, dapat 900rb di bulan pertama. Itulah janji Allah SWT yang pasti akan memberikan rezeki bagi hamba-Nya yang berusaha.

Sedikit demi sedikit hidup kami mulai mengalami perubahan ke arah yang jauh lebih baik. Saya pun kemudian diterima kerja sebagai dokter gigi PTT dari program Kemenkes dan ditempatkan di Puskesmas yang jaraknya sangat dekat dari rumah. Jumlah gaji yang saya terima pun dua kali lipat gaji suami saya, dan jumlah pasien di praktek pun semakin meningkat yang memberi dampak peningkatan penghasilan tambahan bagi keluarga kecil kami dan membuat kami berdua bisa jauh bernafas lega. Namun tetap ada saja lika-liku yang terjadi sebagai bumbu dalam hidup kami. Bermula dari perselisihan yang terjadi dengan pemilik apotek karena kami merasa difitnah, akhirnya empat bulan praktek di sana kami langsung hengkang dan alhamdulillah menemukan tempat baru yang jauh lebih baik. Memang sih hengkangnya kami tetap menimbulkan cerita fitnah tersendiri juga kemudian, tapi kami tidak ambil pusing. Kami yakin Allah SWT akan menunjukkan mana orang yang baik dan mana yang tidak. Buktinya semenjak kami pindah ke tempat baru, alhamdulillah praktek kami semakin rame dan apotek tersebut malah gulung tikar.

Semenjak jumlah pasien makin lama semakin meningkat, akhirnya kami putuskan untuk membeli dental unit beneran. Kami beli dental unit manual keluaran lokal dari Surabaya, karena harganya jauuuh lebih murah setengah harga dibanding harga unit impor yang paling murah. Posisi naik turun kursinya harus diengkol dan posisi duduk rebahannya pake tuas kayak di kursi mobil gitu. Bener-bener manual banget yah ga kayak kursi yang ada di dokter gigi biasa, hehehe. Tapi yang penting sih ini aja udah peningkatan jauh dari kursi pijat primitif kemaren. 😆

Alhamdulillah, semenjak ganti kursi pasien makin lama makin meningkat juga. Mungkin kemaren-kemaren pasien pada shock kali ya lihat kursi giginya aneh banget jadi pada ga balik lagi untuk kunjungan berikutnya, hahaha. Dan setelah satu per satu dokter gigi yang ada di daerah ini berpindahan dan menyisakan hanya kami berdua dokter gigi sekabupaten ini, alhamdulillah rezeki seperti tidak putus-putus. Di saat dokter gigi lain menunggu pasien, kami sangat bersyukur kami malah menjadi yang dicari pasien. Kadang praktek belum buka pasien sudah mengantri. Bahkan pernah kami praktek dari jam 2 siang sampai jam 1 pagi, di bulan Ramadhan pula. Walau pastinya sangat capek sekali, apalagi jarak tempuh rumah-praktek cukup jauh, kami nikmati semua ini, karena belum tentu ke depannya Allah SWT masih memberikan kami kesempatan seperti sekarang ini.

Sekarang hidup kami sudah jauh lebih baik dibanding awal pernikahan kami 2,5 tahun yang lalu. Kami kini sudah pindah kontrakan ke rumah yang jauh lebih baik, benar-benar rumah permanen, dengan air bersih, sanitasi yang baik, dan satu lokasi dengan tempat praktek. Alhamdulillah kualitas hidup kami saat ini jauh lebih baik.

Walaupun keuangan kami sekarang alhamdulillah jauuuuh meningkat, tapi tidak membuat kami malah jadi lupa diri. Kami selalu tetap berhemat dan hidup sederhana dan secukupnya. Dari awal kami punya pendapatan hampir seluruhnya habis hanya untuk investasi, setelah membayar zakat dan berinfaq tentunya.

Insya Allah tahun depan kami berencana untuk membuat gebrakan baru dalam hidup kami. Jika Allah SWT memberikan kesempatan, kami berdua ingin sekali sekolah lagi. Mungkin kami akan mulai hidup di tempat baru dan mulai dari nol kembali. Walaupun rasanya pasti berat melepaskan apa yang sudah kami raih, tapi demi masa depan yang lebih baik kami harus memilih dan memang harus ada yang dikorbankan. Mengingat kami pernah berada di titik terendah dalam kehidupan kami, kami harus yakin Insya Allah kami dapat melalui rintangan di depan yang akan kami hadapi bersama.

Posted from WordPress for BlackBerry.

Advertisements

4 thoughts on “Kisah Hidup yang Mengawali Segalanya

  1. Felicity says:

    Kisah perjuangannya menyentuh sekali… ada suka, duka, tawa, haru campur aduk…. Salut dengan kalian berdua yang bertekad untuk mandiri. Semoga semua yang dicita2xkan bisa tercapai ya….aminnnn….. 🙂

    • arinidm says:

      Hohoho iyaaa Mbak, kami berdua aja sekarang masih suka nggak nyangka kalo dulu hidup kami sebegitunya hehehe. Sering nostalgia ma suami, kok dulu kita itu nekat banget ya, dan ternyata kami bisa tahan banting juga, walo pake acara nangis-nangisan mulu akunya Mbak, hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s